#Citizen Reporter

Pendidikan

Pembukaan PMM Kelompok 84 oleh Mahasiswa UMM di Sambut Baik oleh Warga di Lereng Bromo

Kedatangan kelompok Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa (PMM) Kelompok 84 Gelombang 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dilakukan di Desa Sedaeng, Kec.Tosari, Kab. Pasuruan, Jawa Timur telah resmi dibuka pada hari Senin 29 Agustus 2022 dan disambut hangat oleh warga desa sekitar serta dihadiri oleh  Abdul Hadi atau biasa dikenal dengan Dedik selaku Kepala Desa Sedaeng.   Kegiatan PMM Bhaktimu Negeri merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang di ikuti oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang dikembangkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Bentuk dari PMM ini dapat berupa pembuatan, pendampingan, penyuluhan, aplikasi, desain, serta pelatihan teknologi. Khususnya dalam hal ini masyarakat desa Sedaeng. Bentuk dari kegiatan PMM yang dilakukan oleh Mahasiswa UMM ini yaitu pendampingan dan penyuluhan hukum guna memberikan gambaran dan solusi terkait permasalahan hukum yang terjadi.     Kegiatan PMM ini beranggotakan Karisma Gopinda Sari, Debrianti KR Putri Suprapto, M. Iqbal Prasetya, Rayanda Husny Mubarak, Adyuta Apta Camara Paris dari jurusan Hukum UMM yang akan mengangkat judul “Sosialisasi Dampak Negatif Pernikahan Dini dan Upaya Restorative Justice” di lingkungan Desa Sedaeng. Judul ini diambil karena menurut keterangan Kepala Desa setempat permasalah tersebutlah yang masih sering terjadi di lingkungan desa Sedaeng. Kegiatan PMM ini berada dibawah bimbingan Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing Lapang (DPL).   Pembukaan kegiatan PMM ini di awali dengan pengenalan dengan warga serta Karang Taruna. Dalam hal ini Kelompok PMM 84 Gelombang 9 berharap dengan sambutan yang baik dari warga desa sekitar menjadi awal yang baik untuk kegiatan PMM yang akan dilaksanakan kedepannya.

IQBAL PRASETYA3 menit
Volunteerism

Mahasiswa UM Kembangkan Aplikasi Edukasi Finansial Khusus untuk Disabilitas Netra

Disabilitas netra merupakan Sekelompok kaum inklusif yang terkendala dari penglihatan (visually impaired). Namun, meskipun hidup dengan keterbatasan fisik, ternyata mereka tak membuat mereka pantang menyerah. Mereka justru dianugerahi kelebihan berupa kekuatan dari indra pendengaran, ingatan, kebesaran hati dan lainnya yang tak selalu bisa dikuasai oleh orang normal. Mereka memiliki semangat hidup yang sangat tinggi dan selalu antusias mengetahui hal-hal baru. Bahkan, mereka selalu berusaha hidup mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Oleh karena itu, tidak heran jika sebagian besar mereka memilih berwirausaha.    Pernyataan ini dibuktikan oleh beberapa data. Dilansir dari Akurat.co, Persentase penyandang disabilitas yang bekerja sebagai pengusaha mencapai 70% dari total populasi disabilitas netra pada tahun 2019.  International Labour Organization (ILO) juga menyatakan bahwa terdapat tren peningkatan proporsi penyandang disabilitas yang berwirausaha, yakni dari dari 54,66% di tahun 2017 menjadi 58,25% di tahun 2020. Bahkan, Proporsi penyandang disabilitas yang berwirausaha 1,5 kali lebih banyak dibandingkan proporsi non-disabilitas yang berwirausaha. Data tersebut sesuai data Badan Pusat Statistika di Kota Malang tahun 2020, dari total populasi disabilitas netra berjumlah 262 orang, sebesar 95% berprofesi sebagai wirausaha pijat terapis. Data tersebut menunjukkan bahwa disabilitas netra memiliki ketertarikan yang tinggi untuk berwirausaha agar bisa hidup lebih mandiri.    Namun, di samping data tingginya angka wirausaha, ternyata mereka mengalami kesulitan dalam mengakses permodalan usahanya. Berdasarkan hasil survei dari Disability Study Center 2016, sebanyak 65 persen penyandang disabilitas mengalami kesulitan mengakses layanan perbankan. Khususnya untuk disabilitas netra. Penelitian Dwitya (2016) juga menyatakan bahwa akses keuangan para disabilitas netra ini memang masih sangat minim. Hal ini karena proses pengurusan persyaratan yang diberikan oleh pihak perbankan sangat menyulitkan. Bank meminta adanya pendamping dengan kriteria, kepemilikan agunan, kelengkapan dokumen dan sebagainya. Menurut Adib (2020), disabilitas netra menjadi salah satu penyandang disabilitas yang mendapat predikat unbankable. Hal ini disebabkan karena kaum disabilitas netra yang less literate, sehingga membuat akses keuangan mereka ikut terhambat.   Kondisi less literate ini disebabkan karena minimnya edukasi keuangan yang diperoleh disabilitas netra yang berdampak rendahnya literasi keuangan mereka. Padahal, literasi keuangan ini sangat penting untuk disabilitas netra, agar mereka dapat mengelola keuangan secara lebih mandiri untuk memenuhi kebutuhannya. Adanya literasi keuangan ini tidak hanya memudahkan mereka dalam pengelolaan keuangan pribadi, akan tetapi juga meningkatkan pengetahuan mereka seputar produk dan jasa keuangan yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam mengakses permodalan terutama bagi disabilitas yang berwirausaha.    Oleh karena itu, berdasarkan permasalahan tersebut, Mahasiswa Universitas Negeri Malang mengembangkan sebuah aplikasi yang berfokus pada akselerasi literasi keuangan disabilitas netra. Aplikasi terebut bernama Edufin.id. Aplikasi Edufin.id ini memiliki 3 fitur utama yang befokus pada : (1) Fitur scan uang untuk deteksi nominal mata uang (2) Fitur pinjam uang untuk mengenalkan disabilitas netra pada jasa keuangan fintech yang bisa menjadi alternatif dalam mengakses pendanaan usaha (3) Fitur edukasi uang untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan mereka seputar keuangan dan topik terkait lainnya.   Aplikasi Edufin.id ini diusung oleh 5 mahasiswa yang terdiri dari Nuriah Muyassaroh, Lilis Andriyani, Eka Nurhayati, Krisma Anuarin Hidayat dan Ambar Regita, dan telah berhasil mendapat pendanaan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).   Aplikasi yang dikembangkan ini telah di uji cobakan di lembaga UPT Disabilitas Netra Bina Sosial Kota Malang bersama penyandang disabilitas dan pendamping disabilitas netra. Mereka sangat antusias melakukan uji coba aplikasi dan mereka memiliki banyak harapan mengenai aplikasi Edufin ini. Mereka sangat bersyukur dengan kehadiran aplikasi ini karena jika memang diluncurkan, akan sangat membantu mereka dalam mendeteksi nominal mata uang, memudahkan akses pembiayaan dana, dan meningkatkan pengetahuan mereka seputar keuangan.   

Nuria Riry5 menit
Hukum

Bahas Reformasi Hukum Pasca Pandemi Covid-19, FH UMM Gelar International Conference dan Hadirkan Peserta Serta Pembicara dari 3 Benua

Malang (24/7) - Dinamika dan upaya reformasi hukum pasca pandemi Covid-19 terus berlangsung di seluruh dunia. Melalui jalur legislasi dan penguatan hukum, negara-negara dunia kompak melawan Covid-19 dan berupaya memulihkan aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Geliat itu pula yang diusung oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) melalui beragam aktifitas ilmiahnya, salah satunya dengan menggelar konferensi internasional.   Agenda 3rd International Conference on Law Reform (INCLAR) FH UMM pada tahun ketiganya kali ini mengusung tema "Understanding Law Reform on Post Covid-19 Pandemic" digelar secra daring dan luring. Agenda luring bertempat di UMM Rayz Hotel (22/7) dan GKB IV UMM (23/7). Terdapat sekitar 100 judul paper yang diterima oleh panitia 3rd INCLAR dengan sebaran author berasal dari Filipina, Jepang, Arab Saudi, Hungaria, Belanda, Aljazair dan Indonesia.    Selain peserta yang beragam, panitia juga menghadirkan invited speaker dari beberapa negara, seperti Prof. Oliver Fuo dari North-West University, South Africa, Dr. Fernando Arlettaz dari Universidad de Zaragoza, Spain, Assoc. Prof. Dr. Nor Anita Abdullah dari Universiti Utara Malaysia, Cekli Setya Pratiwi, P.hD (cand) dari Mahidol University, Thailand dan Dr. Herwastoeti dari FH UMM sendiri. Hadir pula Y. Ambeg P, Staf Ahli dari Kementerian Hukum dan HAM RI yang didaulat sebagai keynote speaker.    "Antusias peserta sangat baik. Paper sangat beragam dengan ide yang solutif. Pengalaman tahun ketiga menyelenggarakan INCLAR sungguh sangat menyenangkan karen aprogressnya meningkat pesat, baik segi kualitas maupun kuantitas." Ungkap Sholahuddin Al-Fatih, SH., MH., General Chair atau Ketua dari 3rd INCLAR   3rd INCLAR kali ini mendapatkan dukungan dari sponsor dan co-host, seperti Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Surabaya, Universitas Trisakti, Universitas Islam Riau, Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Universitas Muhammadiyah Ponorogo dan Universitas Muhammadiyah Surabaya. Sebagai luaran publikasi, 3rd INCLAR juga bekerjasama dengan publisher ternama seperti KnE (prosiding), Bestuur (jurnal terindeks Scopus), Cita Hukum (jurnal terindeks ESCI, Web of Science), Yuridika dan Legality (jurnal terakreditasi SInta 2), serta Audito (jurnal terindeks DOAJ). 

Putri Sth3 menit
Hukum

Visiting Lecturer FH UMM Hadirkan Bawaslu Kota Malang Bahas Pemilu

Malang (12/5) - Pemilu menjadi salah satu topik bahasan dalam mata kuliah Hukum tata Negara di Perguruan Tinggi, tak terkecuali di FH UMM. Matkul HTN 1 yang diampu oleh Sholahuddin Al-Fatih, SH., MH., dalam kesempatan bertajuk Visiting Lecturer, menghadirkan Pakar dari Bawaslu Kota Malang, Rista Choirun Nisaq, SH., pada bulan Ramadhan lalu (26/4).   Rista, yang juga merupakan mahasiswa Prodi MIH UMM, menyebut bahwa Pemilu menjadi salah satu topik yang selalu menarik untuk dikaji di ruang-ruang akademik.   "Pemilu ini kan rutin periodik, tapi problematika yang rutin ini tetap saja tak bisa teratasi. Misal, terkait sengketa maupun potensi kisruhnya." Ungkap Rista   Dalam kesempatan tersbeut, mahasiswa HTN 1 yang hadir dalam kesempatan tersebut, berkesempatan untuk diskusi dan tanya jawab langsung dengan pemateri. Agenda yang berlangsung secara virtual tersebut berakhir menjelang sekira pukul 16.00 WIB. (saf)

Sholahuddin Al-Fatih2 menit
Pendidikan

Bi'ah Lughowiyah : Mahasiswa PMM UMM Tahun 2022 Kelompok 52 Gelombang 04 Ciptakan Lingkungan Bahasa Arab di BA Baitul Makmur Dau

Malang (25/04) – Kampus Putih, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali mengadakan kegiatan PMM Bhaktimu Negeri atau biasa disebut dengan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa Bhaktimu Negeri, pada bulan Maret-April. Kegiatan ini dilaksanakan pada 23 Maret 2022-23 April 2022 dengan pembagian dua kelompok, yakni kelompok 3 dan kelompok 4. Pada kegiatan kali ini, setiap gelombang memiliki pembagian kelompok sebanyak 98 kelompok dengan program kerja yang berbeda-beda. Kegiatan PMM ini merupakan kegiatan pengganti KKN (Kuliah Kerja Nyata), yang dicetuskan oleh Kampus Putih, UMM, saat pandemi sedang berlangsung.   Sebagaimana kelompok lainnya yang mencetuskan program kerjanya, mahasiswa PMM UMM Kelompok 52 Gelombang 4 pun mencetuskan program kerjaya, yakni program kerja “Bi’ah Lughowiyah”. Program kerja ini merupakan program kerja yang akan membangun lingkungan bahasa, yakni bahasa Arab, di BA Baitul Makmur Dau selama satu bulan ke depan. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Selain itu, bahasa Arab merupakan bahasa internasional yang patut dipelajari selain bahasa Inggris. Oleh sebab itu, Mahasiswa PMM UMM Kelompok 52 Gelombang 4, yang seluruh anggota kelompoknya merupakan mahasaiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, mencetuskan program kerja "Bi’ah Lughowiyah”, dengan harapan agar bisa ikut andil dalam membantu mencerdaskan anak bangsa.   Pengajaran yang ada pada "Bi’ah Lughowiyah” diantaranya ialah membaca huruf hija'iyah atau mengaji, hafalan doa-doa harian seperti doa sebelum-sesudah makan, doa masuk-keluar kamar mandi, doa berbuka puasa, doa-doa sholat, surat-surat pendek, serta beberapa kosakata bahasa Arab, seperti angka, masjid, laptop, dan telefon. Pengajaran ini dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya menyanyi, menirukan, menggambar, dan mewarnai.    “Meski penerapan lingkungan bahasa ini masih sederhana, seperti mengaji, beberapa doa harian, beberapa surat pendek, serta beberapa kosakata bahasa Arab, mengingat kami mengajar di Bustanul Athfal Baitul Makmur, setidaknya mereka telah mempelajari bahasa Arab sejak dini sehingga kedepannya, di masa depan, mereka dapat meneruskan pembelajarannya secara lebih mendalam, sesuai dengan tingkatan usia mereka. Adapun kegiatan PMM kami yang berjalan kurang lebih selama sebulan ini, alhamdulillah telah berjalan dengan baik dan lancar”, ujar Yovesa, salah satu anggota kelompok.

Armisieo Yovesa4 menit