#Citizen Reporter

Gaya Hidup

Mahasiswa PMM 30 Gelombang 7 UMM Sosialisasikan tentang Vaksinasi Covid-19 dan Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) Guna Menghadapi Pandemi COVID-19

Malang (16/7) - 27 Juni dan 28 Juni lalu, Mahasiswa PMM 30 Gelombang 7 UMM melaksanakan sosialisasi mengenai vaksinasi dan germas (gerakan masyarakat hidup sehat) kepada masyarakat Desa Sumbersari, RT 04/RW 02, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.   Sosialisasi dilakukan secara door to door untuk meminimalisir kerumunan. Target utama dari sosialisasi mengenai vaksinasi COVID-19 dan germas adalah seluruh warga Desa Sumbersari, RT 04/RW 02 terutama pemuda dan pemudi serta orang tua. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk meningkat kesadaran masyarakat untuk melakukan vaksinasi COVID-19 serta senantiasa berperilaku bersih dan sehat dalam kehidupan sehari agar tubuh memiliki imunitas yang baik untuk melawan virus yang sekarang ini sedang menginfeksi banyak manusia. Siapapun itu bisa menjadi target dari virus tersebut, sehingga dibutuhkan pengetahuan serta kesadaran untuk melindungi dan peduli terhadap diri sendiri.   Isi sosialisasi vaksinasi COVID-19 antara lain definisi vaksinasi, tujuan vaksinasi, macam-macam vaksin, KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi yang mungkin terjadi, serta dimanakah masyarakat bisa mendapatkan vaksinasi. Banyak masyarakat yang baru mengetahui bahwa akan timbul beberapa reaksi respon tubuh setelah dilakukan vaksinasi. “Wah, ternyata ada ya mbak kejadian ikutan pasca imunisasi seperti demam, saya baru mengetahuinya dan ternyata hal tersebut merupakan reaksi dari tubuh kita” ujar Santi, salah satu target sosialisasi.   Selain itu, kami juga melakukan sosialisasi tentang germas. Isi dari sosialisasi adalah cara menjaga diri dan keluarga agar tetap sehat dari COVID-19. Salah satunya adalah selalu menggunakan masker bila keluar rumah, melakukan etika batuk ketika batuk, selalu menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, makan makanan yang sehat dan bergizi, dan selalu berdoa supaya diberikan kesehatan oleh Yang Maha Kuasa.   Respon warga Desa Sumbersari, RT 04/RW 02, Malang begitu baik dan terbuka terhadap kegiatan ini. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan oleh yang Maha Kuasa. Mari peduli dan lindungi diri sendiri serta keluarga dari virus Corona.

fesli fadhila3 menit
Pendidikan

Membina Calon-calon Pemimpin Melalui Rumah Arsitek Peradaban

Rumah Arsitek Peradaban Indonesia, atau disingkat RAPI adalah lembaga Pengembangan minat dan bakat Mahasiswa yang berada di Kediri. Melalui lembaga ini, kami ingin menghadirkan sebuah program pembinaan yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan adanya Rumah ini, diharapkan seluruh peserta yang tergabung dalam pembinaan mendapatkan kepahaman mengenai bagaimana mengenal islam secara syumul, dan dengan keikhlasannya mampu menyiarkan kebaikan serta mencegah kemungkaran.   RAPI lahir atas dasar kepedulian akan kondisi saat ini, yaitu degradasi moral dan integritas yang dimiliki oleh pemuda. Pemuda terutama Mahasiswa adalah calon pemimpin yang akan menjadi Arsitek menyusun bagaimana jalannya Peradaban Indonesia. Oleh karena itu nasib bangsa ini bergantung pada pemuda yang saat ini sedang menjadi seorang mahasiswa. Coching Organisasi bersama FKI IIK Kediri   Progam pembinaan di RAPI tidak hanya berfokus pada personal namun juga organisasi. Program yang kita miliki yaitu Beasiswa Berbasis Asrama, Pelatihan, dan pengembangan Organisasi ataupun Personal. Pembinaan tersebut bergerak di bidang SDM, Sosial, Keilmuan, dll. Diharapkan dengan adanya pembinaan tersebut penerima manfaat dapat memaksimalkan potensi seusai minat dan bakat masing-masing. Adapun target dari penerima manfaat adalah dari kampus PSDKU UB Kediri, PSDKU Polinema Kediri, IAIN Kediri, IIK Kediri.   Dalam pelaksanaannya RAPI tidak bekerja sendiri, tetapi bekerja sama dengan berbagai elemen dan organisasi. Saat ini RAPI telah melaksanakan pembinaan, pelatihan, dan pengembangan dengan FKI IIK, KKI UB, dan Rohis Strada. Dikarenakan Pandemi yang belum reda akhirnya program beasiswa berbasis Asrama belum bisa dilaksanakan, jikapun dilaksanakan akan tidak maksimal. Oleh karena itu program kita fokuskan untuk melaksanakan coaching terhadap personal maupun organisasi. Webinar dan Galang Dana Palestina   Selain melaksanakan program pembinaan tersebut, kita juga melaksanakan program yang berbasis sosial seperti menanggapi isu Geopolitik Internasional tentang Palestina. Dikarenakan Penerima Manfaat diharapkan bisa menjadi Arsitek Peradaban Indonesia di masa depan, untuk itu kita mengajak mereka untuk berpikir kritis secara global. Program ini bukan hanya sebagai bentuk pencerdasan tapi juga menanamkan kepekaan terhadap sesama. Dalam program ini kita melaksanakan galang dan dan Webinar yang narasumbernya langsung dari palestina. Memberikan Training Organization Pesantren Pelajar Indonesia   Untuk saat ini program belum bisa dilaksanakan secara maksimal, dan mengharuskan kita untuk luring. Kedepannya RAPI akan terus berinovasi agar lebih baik dalam melasanakan program.

rijal helmy4 menit
Volunteerism

Gempa Malang Selatan "Respon Cepat Penerima Manfaat Baktinusa Bersama Berbagai Elemen Dompet Dhuafa"

Awal Ramadhan 2021 yang biasanya masyarakat muslim bisa melaksanakan ibadah dengan khusyuk, tapi dihari itu tanggal Pada 10 April 2021 yang lalu Kab. Malang dan sekitarnya dilanda gempa bumi dengan kekuatan 6,1 SR, Kedalaman 25 KM terjadi di titik Lintang 8.95 LS, Bujur 112.48 BT yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan dibeberapa titik. Hasil laporan tim Respon menyatakan dampak bencana gempa diantaranya 8 orang meninggal dunia (3 orang di Malang dan 5 orang di Lumajang), dan 39 orang mengalami luka-luka. Terdapat berbagai jenis kerusakan bangunan diantaranya 1361 rumah rusak ringan, 845 rumah rusak sedang dan 179 rumah rusak berat. Posko Bencana Dhompet Dhuafa Berupa Dapur Ramadhan yang ada di dua dusun. Salah satu kawasan terdampak paling parah adalah Desa Wirotaman, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Merespon kondisi gempa tersebut, Dompet Dhuafa (DD) melalui kolaborasi tim Disaster Management Center (DMC), Dompet Dhuafa Volunteer (DDV), Bakti Nusa, dan Youlead berjumlah 22 orang personel terjun bersama membantu kawasan terdampak. Pada tanggal 12 Dompet Dhuafa telah menerjunkan Tim untuk melakukan Assesment, dan selanjutnya pendirian posko di Desa Wirotaman. Dalam Pelaksanaannya ada dua Posko di dua dusun, yang keduanya sebagai Dapur Ramadhan yang menyediakan berbuka bagi Warga Sekitar. Program ini berfokus pada pengadaan kotak makan 150-200 kotak setiap hari dengan takjil berserta minuman segarnya.    Tim Bakti Nusa bersama DDV dan DMC melangsungkan program giat bersih dalam menanggapi kerusakan rumah dan fasilitas umum yang terjadi. Program giat bersih berfokus pada bantuan tenaga dalam menyisihkan puing-puing bangunan yang roboh, seperti masjid, rumah warga, dan membantu pendirian tenda terpal darurat. Dalam pelaksanaannya kita tidak hanya bekerja sendiri dengan internal Elemen Dhompet Dhuafa, tapi kita juga berkolaborasi dengan berbagai lembaga Pemerintah, Relawan, dll. Pembagian makanan untuk berbuka puasa Mayarakat terdampak. Selain tanggap pada kerusakan materil, hasil assessment tim DD menunjukkan diperlukan adanya program yang membantu pemulihan psikologi warga setempat khususnya anak-anak.  Program Psychological First Aid (PFA) Oleh karenaya Psychological First Aid (PFA) menjadi salah satu program yang berfokus pada pemulihan yang menyasar anak-anak hingga remaja setempat. Berbagai aktivitas PFA diantaranya pola senyum sehat, senyum ceria dan senyum semangat. Program PFA diawali dengan senyum semangat yang dilakukan bersama di lapangan voli desa Wirotaman berupa permainan lokal bersama 57 anak-anak. Selain itu dikarenakan Kondisi Covid kita juga memberikan pencerdasan terkain protokol Kesehatan, tidak lupa juga kita melakukan kampanye menjaga kesehatan gigi dan mulut melalui penyuluhan terhadap anak-anak.   Terlaksanakanya program PFA membawa dampak yang cukup signifikan bagi tingkat kebahagiaan anak-anak. Dengan adanya program ini, anak-anak memiliki aktivitas produktif di siang hari dan berinteraksi bersama teman-temannya. Mengingat kondisi geografis desa wirotaman yang naik turun, membuat jarak antar rumah yang cukup jauh bagi anak-anak untuk bisa bermain tanpa pengawasan orang tua.    Perjalanan Marching for Boundaries (MFB) Bakti Nusa (Rijal Helmy Saiful Islam, Chaca Nugraha Zaid, Ulfatu Mahmuda, dan Hanif Hidayatun Nikmah) pada kawasan terdampak gempa membawa sudut pandang baru dalam melihat bencana yang terjadi di bumi pertiwi. Bahwa sebagai pemuda, kita diberikan kelimpahan waktu dan tenaga yang seharusnya diberdayakan untuk membantu masyarakat, terutama dalam kondisi terdampak bencana. Penyaluran Bantuan Kepada Terdampak Gempa.   Melihat Senyum mereka yang membutuhkan membuat kita teringat makna akan syukur dan ikhlas. Berkolaborasi dengan berbagai elemen juga mengajarkan kita akan makna gotong royong yang sudah mengakar dari bangsa ini.    

rijal helmy6 menit
Gaya Hidup

Gerakan Puasa Sampah, Momentum Kontruksi Habitus Masyarakat Pasca Lebaran

Bulan Ramadan menjadi momentum penyucian jiwa dan raga dengan berlomba berbuat kebaikan dengan sesama. Salah satunya adalah berbagi takjil bagi orang yang berpuasa. Aktivitas ini sudah menjadi budaya di kalangan masyarakat setiap bulan Ramadan. Berbagi takjil pada umumnya di distribusikan di jalan raya kepada pengendara atau di tempat-tempat ibadah, seperti masjid dan mushollah. Namun, ternyata fenomena ini menimbulkan dampak negatif tersendiri, sehingga secara tidak langsung menodai hakikat dari bulan Ramadan sebagai bulan suci. Fenomena tersebut berupa peningkatan volume sampah yang signifikan semenjak bulan Ramadan. Fakta ini telah disampaikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) beberapa daerah yang menyebutkan bahwa volume sampah meningkat sebesar 20 persen pada bulan Ramadan 1442 Hijriah ini. Peningkatan ini diduga disebabkan oleh tingginya produktivitas masyarakat melalui berjualan takjil dan peningkatan pola konsumsi masyarakat pada waktu sahur dan berbuka puasa. Fenomena di Kawasan Masjid Kota Malang Berdasarkan pengamatan kami terhadap sampah di 3 masjid di Kota Malang, antara lain Masjid Jami’ Kota Malang, Masjid Muhajirin, dan Masjid Perumahan Permata Jingga. Sebagian besar sampah dipenuhi oleh sisa takjil dan buka puasa. Adapun rincian jumlah sampah masing-masing masjid, meliputi : (1) Masjid jami’ sebanyak 2 – 3 tong sampah (kisaran 150 – 200 porsi) dengan komposisi sampah berupa gelas kemasan, wadah nasi kotak, plastic kresek, dan sterofoam; (2) Masjid Muhajirin berjumlah lebih dari 4 tong sampah (kisaran 500 takjil dan 300 porsi buka puasa) dengan komposisi sampah organik (biji kurma, kulit semangka), dan anorganik (wadah takjil, gelas kemasan, sedotan, bungkus nasi kotak, dan sterofoam); (3) Masjid perumahan hanya 1 tong sampah (5-6 nampan takjil (snack) dan 30 – 50 porsi buka puasa. Perbedaan kuantitas sampah ini juga dipengaruhi oleh besar kecilnya masjid dan jumlah jamaah. Masjid perumahan lebih kecil, sehingga sampah yang dihasilkan pun relatif minim dan tidak sampai mengotori masjid. Berbeda dengan masjid Jami’ dan Muhajirin, ketika tempat sampah sudah sangat penuh, maka sampah menjadi berserakan dimana-mana akibatnya halaman masjid menjadi kotor. Namun, ketiga masjid tersebut belum memiliki strategi pengelolaan atau pencegahan sampah khusus. Sebagian besar, pengelola masjid hanya mengandalkan kerjasama petugas sampah dari Dinas Lingkungan Hidup untuk mengambil sampah masjid dan membuangnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Jika budaya ini dibiarkan maka sampah berpotensi terus meningkat selama bulan Ramadan di TPA karena tidak adanya upaya atau strategi minimalisir sampah dari pihak pengelola masjid atau masyarakat. Selain itu, jika diamati dari jenis sampah yang memenuhi tempat sampah di masjid  masih didominasi sampah anorganik. Padahal, Pemerintah Kota Malang telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Wali Kota Malang nomor 8 tahun 2021 tentang pengurangan sampah plastik. Dalam peraturan tersebut juga menghimbau agar pengunjung restoran, kafe, warung, kantin dan usaha sejenisnya untuk tidak menggunakan pembungkus dari bahan plastik. Peraturan ini sebenarnya diluncurkan dalam rangka menanggapi permasalahan “Malang Darurat Sampah” pada tahun 2019. Pada saat itu, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supiturang sudah mencapai 600 ton, baik sampah domestik dan industri. Tentu jika tidak ada pengendalian lebih lanjut atau tidak ada kesadaran masyarakat untuk berupaya meminimalisir sampah, terutama di bulan Ramadan yang cenderung meningkat setiap tahun. Peluncuran Gerakan Puasa Sampah Jika melihat pada fenomena ini, rupanya prosesi penyucian diri masyarakat masih sebatas menahan diri dari nafsu makan dan minum, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah demi meraup pahala sebesar-besarnya. Namun, lupa bahwa bulan Ramadan juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran diri dalam bertindak, termasuk dalam hal konsumsi dan menyampah. Padahal, sejatinya jika ditelusuri lebih dalam, hakikat dari menjaga lingkungan sama dengan menjaga agama sebagaimana yang tertera dalam Q.S Al-A’raf : 56 dan menjaga jiwa dalam Q.S Al-Maidah : 32. Salah satu wujud dari menjaga lingkungan adalah mengurangi produksi sampah, terutama sampah anorganik yang tidak bisa diurai dan berpotensi menimbulkan pencemaran, baik tanah, air maupun udara. Upaya ini  diwujudkan melalui gerakan puasa sampah plastik oleh para aktivis lingkungan Kota Malang pada Bulan Ramadan 1442 Hijriah ini. Gerakan ini berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Malang dalam mengeluarkan beberapa tuntutan, seperti melarang penggunaan plastik sekali pakai, berpuasa membuang sampah di sungai, dan beberapa pengendalian lainnya. Peluncuran Gerakan puasa sampah ini merupakan sebuah upaya pemerintah kota Malang untuk membentuk sebuah kebiasaan positif baru dan meningkatkan kesadaran masyarakat seputar sampah. Bulan Ramadan adalah momentum yang tepat untuk menerapkan gerakan tersebut sebagai bentuk serangkaian puasa jiwa dan raga. Penerapan secara serentak dan menyeluruh  memang sangat susah, walaupun gerakan ini sudah dicetuskan sejak 15 April 2021. Mengingat masyarakat diminta memutus secara paksa penggunaan plastik yang tidak bisa dihindari bahkan menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, menjelang lebaran, pemerintah perlu segera melakukan evaluasi dan mengerucutkan sasaran dari yang awalnya skala makro beralih menjadi mikro. Maksud dari skala mikro ini adalah pemerintah bisa mulai menghimbau dan menerapkan gerakan puasa sampah dari lingkup kecil terlebih dahulu. Salah satunya adalah masjid sebagai tempat ibadah yang rutin di kunjungi masyarakat dan rutin pula mengadakan takjil dan buka bersama. Implementasinya, pengurus masjid mulai menghimbau kepada jamaah dan masyarakat sekitar untuk meminimalisir penggunaan plastic sebagai wadah takjil atau makanan dengan kemasan dari plastik. Dari himbauan tersebut, masyarakat akan mulai mencari alternatif dengan mengganti wadah plastik menjadi wadah yang bisa dipakai ulang atau dari bahan organik, seperti daun pisang. Gerakan puasa sampah ini sangat penting dikampanyekan sebelum lebaran, agar ketika pemerintah memberikan pelarangan sampah plastik dalam lingkup yang lebih luas, masyarakat tidak shock dan mulai terbiasa dengan kampanye tersebut. Gerakan ini juga sebagai respon pemerintah untuk membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa Malang sedang dalam kondisi darurat sampah. Jika tidak segera diatasi, maka akan berpotensi menimbulkan malapetaka atau bencana di masa depan.              

Nuria Riry8 menit
Ekonomi

Gerak Sigap Respon Kawasan Gempa Terdampak – Ampel Gading Malang

Gempa yang terjadi di Malang Selatan pada tanggal 10 April 2021 dengan kekuatan 6,1SR, Kedalaman 25 KM terjadi di titik Lintang 8.95 LS, Bujur 112.48 BT menyebabkan korban jiwa dan kerusakan dibeberapa titik. Salah satu kawasan terdampak ialah Desa Wirotaman, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Merespon kondisi gempa tersebut, Dompet Dhuafa melalui kolaborasi tim DMC (Disaster Management Center), DDV (Dompet Dhuafa Volunteer) dan Bakti Nusa 10 Malang (22 personel) sigap terjun bersama membantu kawasan terdampak. Hasil laporan tim Respon menyatakan dampak bencana gempa diantaranya 8 orang meninggal dunia (3 orang di Malang dan 5 orang di Lumajang), dan 39 orang mengalami luka-luka. Terdapat berbagai jenis kerusakan bangunan diantaranya 1361 rumah rusak ringan, 845 rumah rusak sedang dan 179 rumah rusak berat. Tim yang terjun dalam giat bersih untuk membantu warga membereskan puing-puing bangunan akibat gempa   Saat tim respon turun pada lokasi terdampak, sebagian besar warga yang mengalami kerusakan rumah berat mengungsi ke rumah saudara dan tetangga, sedang warga dengan kerusakan ringan rumah sedang kembali kerumah dan mendirikan tenda didepan dan pelataran rumah. Menanggapi kerusakan rumah dan fasilitas yang terjadi, Tim Bakti Nusa bersama DDV dan DMC melangsungkan program giat bersih. Program giat bersih berfokus pada bantuan tenaga dalam menyisihkan puing-puing bangunan yang roboh, seperti masjid desa, rumah warga dan membantu pendirian tenda terpal darurat. Selain melakukan giat bersih, tim yang didominasi oleh pemuda ini juga melakukan tindak lanjut assessment pada fasilitas umum untuk menentukan program dan fokus bantuan prioritas. Selain tanggap pada kerusakan materiil, Hasil assessment tim DD menunjukkan diperlukan adanya program yang membantu pemulihan psikologi warga setempat khususnya anak-anak. Oleh karenaya PFA (Psychological First Aid) menjadi salah satu program yang berfokus pada pemulihan yang menyasar anak-anak hingga remaja setempat. Berbagai aktivitas PFA diantaranya pola senyum sehat, senyum ceria dan senyum semangat. Program PFA diawali dengan senyum semangat yang dilakukan bersama di lapangan voli desa Wirotaman berupa permainan local bersama 57 anak-anak.  Selain itu, untuk membantu meningkatkan kreativitas anak-anak, PFA selanjutnya dilaksanakan dengan tema senyum ceria yang di isi dengan menggambar, mewarnai dan menyanyi lagu-lagu daerah bersama. PFA selanjutnya yakni bertema senyum sehat di isi dengan edukasi kesehatan gigi dan mulut oleh tim Bakti Nusa yakni Rijal Helmy, Chaca Nugraha Zaid, Hanif Hidayatun Nikmah dan Ulfatu Mahmuda. Program ini semakin meriah dengan berbagai bonus yang dibagikan seperti paket kebersihan (pasta gigi dan sikat gigi) beserta aneka jajan. Terlaksanakanya program PFA membawa dampak yang cukup signifikan bagi tingkat kebahagiaan anak-anak. “Saya suka main bareng kakak-kakak karena ngga bosen dan seru, diajarin nyanyi, nggambar dan dapat banyak hadiah” salah satu jawaban Anggi gadis kecil berkuncir ungu, saat ditanya kesan mengikuti rangkaian program PFA. Terlebih dengan adanya program ini, anak-anak memiliki aktivitas produktif disiang hari dan berinteraksi bersama teman-temannya. Mengingat kondisi geografis desa wirotaman yang naik turun, membuat jarak antar rumah yang cukup jauh bagi anak-anak untuk bisa bermain tanpa pengawasan orang tua. Selain psikologis anak, para ibu-ibu juga memiliki trauma dan kesedihan tersendiri. Dalam rangka membalut kehangatan dalam kebersamaan dan memberikan kegiatan yang berseiringan bulan Ramadhan, DD menghadirkan program Dapur Ramadhan. Program ini berfokus pada pengadaan kotak makan 150-200 kotak setiap hari dengan takjil berserta minuman segarnya. Keseluruhan makanan ini, di produksi bersama oleh ibu-ibu dan remaja putri di salah satu rumah warga yang menjadi posko Dompet Dhuafa. Mulai dari subuh hingga ba’da dhuhur, tim Dapur akan disibukkan dalam serunya memasak makanan favorit yang mereka ingin. Selanjutnya kotak makan yang telah siap akan di distribusikan keseluruh warga.

ulfatu mahmuda5 menit