#Pengabdian Masyarakat

Volunteerism

PMM EPISODE: OPTIMALISASI PENGADAAN TEMPAT SAMPAH DI DESA SUMBERSUKO

Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Gelombang 4 Kelompok 89 Universitas Muhammadiyah Malang mengadakan pengadaan tempat sampah di Desa Sumbersuko. Program kerja pengadaan tempat sampah merupakan sebuah program kerja utama oleh PMM Kelompok 89. Program kerja ini ditujukan kepada masyarakat agar dapat membuang sampah pada tempatnya. Program kerja tersebut diharapkan sebagai sebuah media penyaluran berbagai kegiatan positif kepada masyarakat setempat. Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa tersebut bertujuan untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan ini dilakukan oleh PMM Kelompok 89 Gelombang 4 yang terdiri dari Salsabila Auliya Meishanti selaku Koordinator dan empat anggota kelompok lainnya yaitu Fatimah Azzahra, Elvyra Azzahra, Rani Tri Ageng Supadi, serta Achmad Billy Badruzzaman. Kelompok ini dibimbing oleh dosen pembimbing Bapak Ardik Praharjo, S.AB., M.AB. Diadakan program kerja ini, karena PMM Kelompok 89 telah memeriksa beberapa titik lokasi di Desa Sumbersuko yang tidak memiliki beberapa tempat sampah umum. PMM Kelompok 89 menentukan dua tempat sampah disekitar jalan Desa Sumbersuko dan dua tempat sampah di sekolah-sekolah Desa Sumbersuko. Pada program kerja pengadaan tempat sampah tersebut, PMM Kelompok 89 menyediakan kayu, bambu, paku, palu, alat cat, dan bahan lainnya. Bahan-bahan tersebut dibutuhkan untuk membuat empat tempat sampah yang akan diletakkan di empat lokasi titik Desa Sumbersuko. Lalu pengadaan tempat sampah menggunakan bambu dan kayu dapat memberikan ide inovatif kepada masyarakat setempat dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia disekitar. Selain itu juga, diadakannya pengadaan tempat sampah tersebut diharapkan agar tercipta lingkungan yang bersih, sehat, dan tentram, serta meningkatkan kesadaran kepada masyarakat setempat agar melestarikan lingkungan sekitar dan tidak membuang sampah disungai ataupun sembarangan, melainkan membuang sampah pada tempatnya.  PMM Kelompok 89 menghasilkan empat tempat sampah dan memutuskan untuk meletakkan dua tempat sampah tersebut di sekitar jalan Desa Sumbersuko serta di di MI Al-Istiqomah dan SDN Sumbersuko. Karena berdasarkan hasil survey, tempat-tempat tersebut belum memiliki tempat sampah umum. Tempat sampah umum memiliki peranan penting dalam menjaga kebersihan dan melestarikan lingkungan. Sehingga dengan adanya pengadaan tempat sampah di Desa Sumbersuko tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.   

22.084_Salsabila Auliya Meishanti5 menit
Opini

Mahasiswa PMM UMM Bersama dengan Polsek Lowokwaru Malang Gelar Sosialisasi Anti Bullying di SDN Lowokwaru 3 Malang

PMM UMM Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini dilakukan oleh Mahasiswa Kelompok 97 Gelombang 8 yang baru saja menggelar PMM di SDN Lowokwaru 3 Malang, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Mahasiswa PMM UMM Kelompok 97 Gelombang 8 menggelar kegiatan sosialisasi kepada siswa-siswi SDN Lowokwaru 3 Malang dengan mengambil tema tentang “Bahayanya Bullying Fisik dan Bullying Verbal”, pada Selasa (23/07). Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan  Polsek Lowokwaru Malang, dalam rangka untuk menumbuhkan kesadaran dan mengedukasi para siswa-siswi SDN Lowokwaru 3 Malang sebagai generasi muda, untuk sejak dini sadar akan bahaya serta dampak negatif yang ditimbulkan dari perilaku bullying fisik dan bullying verbal. Dalam sosialisasi ini, Mahasiswa Kelompok 97 Gelombang 8 yang tergabung dalam program kerja Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang menyampaikan materi mengenai definisi bullying fisik dan bullying verbal. Jenis-jenis dari bullying fisik dan bullying verbal, serta dampak jangka panjang yang bisa ditimbulkan dari bullying fisik dan bullying verbal. Bullying fisik dan bullying verbal menjadi fokus utama dalam sosialisasi ini, mengingat tingginya kasus perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah. Mahasiswa PMM UMM Kelompok 97 Gelombang 8 mengambil tema tersebut selaras dengan terjadinya kasus bullying di Kota Batu pada Juni 2024 yang lalu, sehingga kelompok PMM UMM memberikan edukasi kepada siswa-siswi agar tercegahnya tindakan serupa terjadi di kemudian hari. Acara ini dihadiri oleh seluruh siswa-siswi SDN Lowokwaru 3 Malang yang dipisah menjadi 2, yakni putra dan putri yang dibagi menjadi 2 sesi antara kelas 1 sampai dengan kelas  3 SD dan sesi selanjutnya kelas 4 sampai dengan kelas 6 SD, dengan antusiasme yang tinggi dari para peserta yang hadir. Materi yang disampaikan oleh Mahasiswa PMM UMM Kelompok 97 Gelombang 8 bersama pihak Polsek Lowokwaru Malang dikemas secara menarik melalui power point animasi, pemutaran video animasi mengenai tindakan bullying fisik dan bullying verbal, serta adanya permainan interaktif dan diskusi yang melibatkan para siswa-siswi secara langsung. Tujuannya agar para siswa-siswi SDN Lowokwaru 3 Malang dapat lebih mudah memahami dan mengingat pentingnya menjauhi tindakan bullying fisik dan bullying verbal. Pihak Polsek Lowokwaru Malang memberikan pengarahan kepada para siswa-siswi mengenai peran penting kepolisian dalam menangani kasus bullying serta pentingnya melapor apabila terjadi tindakan yang mencurigakan. Pihak Polsek Lowokwaru Malang menegaskan bahwa setiap bentuk bullying adalah tindakan yang tidak dapat ditolerir dan dapat dikenai sanksi hukum. Kegiatan ini sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa bullying bukanlah tindakan yang dapat diterima dalam kehidupan sosial. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan siswa-siswi SDNLowokwaru 3 Malang dapat menjadi agen perubahan yang mampu menolak segala bentuk perundungan fisik maupun verbal baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Sementara itu, Koordinator PMM UMM Kelompok 97 Gelombang 8 dari Universitas Muhammadiyah Malang, Fidya Fatma Fadhillah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dalam memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, “Sebagai Mahasiswa, kami memiliki tanggung jawab sosial untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi generasi muda. Melalui kegiatan sosialisasi ini, kami berharap dapat membantu siswa-siswi SDN Lowokwaru 3 Malang untuk memahami dampak buruk dari bullying fisik dan bullying verbal serta menjadi individu yang lebih peduli terhadap sesama,” jelasnya. Kegiatan ini ditutup dengan pemberian pesan edukatif mengenai anti-bullying kepada para siswa-siswi serta dengan tepuk anti bullying sebagai bentuk kampanye anti-bullying. Kepala Sekolah SDN Lowokwaru 3 Malang, Ibu Sri Wahyuni, mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh mahasiswa PMM Universitas Muhammadiyah Malang dan Polsek Lowokwaru. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya sikap saling menghargai dan menjauhi tindakan kekerasan dalam bentuk apapun. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan dapat tercipta lingkungan belajar yang lebih edukatif dan kondusif serta aman di SDN Lowokwaru 3 Malang, serta dapat mendorong siswa-siswi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berempati terhadap sesama.

Sherlyta Adevitica Lintang Justitia7 menit
Pendidikan

Kegiatan Pemanfaatan Sampah Menjadi Barang Bernilai Guna di SD Negeri 1 Banjararum

Kegiatan Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang merupakan kegiatan pendampingan dan pelayanan mahasiswa untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dalam menerapkan aplikasi, desain, teknologi atau perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Kegiatan ini juga merupakan bentuk kontribusi mahasiswa terhadap masyarakat. Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan oleh kelompok 94 gelombang 1, dengan anggota kelompok yang terdiri dari Ine Dwi, Nazwa Fakhira, Amanda Rahmania, Fariq Baihaqi, dan Shiva Hermaleo yang berasal dari Fakultas Psikologi dan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang dibawah bimbingan Ibu I’anatut Thoifah, M.Pd.I, selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).  Kegiatan ini dilakukan di SD Negeri 1 Banjararum Singosari. Kegiatan yang diangkat oleh kelompok 94 gelombang 1 yaitu Kegiatan pengelolaan sampah menjadi barang bernilai guna yang dilakukan dengan siswa dan siswi kelas 3 SD Negeri 1 Banjararum Singosari. Sampah yang dipilih yaitu sampah sedotan dan juga stick kayu yang akan digunakan menjadi hiasan dinding. Kegiatan diawali dengan membagi siswa dan siswi menjadi dua kelompok, setelah itu melakukan tutorial yang dipandu oleh anggota PMM dan disimak oleh para siswa dan siswi, selanjutnya masing masing perwakilan kelompok dipersilahkan untuk maju kedepan dan mempraktikkan tutorial yang telah dilakukan oleh anggota PMM agar dapat diajarkan kepada teman temannya yang belum paham. Setelah itu baru melakukan kegiatan pemanfaatan sampah sedotan dan stick kayu menjadi barang bernilai guna. Selama kegiatan berlangsung anggota PMM juga ikut langsung untuk mendampingi, mengawasi dan membantu para siswa dan siswi dalam melakukan kegiatan, anggota PMM juga mengadakan lomba dari kegiatan tersebut untuk meningkatkan kreativitas dari masing masing kelompok, kelompok yang paling banyak membuat bunga dari sedotan akan menjadi pemenang utama dan mendapatkan hadiah, untuk kelompok yang kalah juga mendapatkan hadiah sehingga sistem lomba hanya untuk meningkatkan motivasi siswa dan siswi sehingga dapat bersemangat melakukan kegiatan tersebut. Pemanfaatan sampah sedotan dan stick kayu untuk barang bernilai guna yang dibuat oleh anak-anak sekolah dasar dapat meningkatkan beberapa keterampilan yaitu,  Kreativitas dan Imajinasi. Anak-anak belajar untuk berpikir kreatif dalam memanfaatkan bahan yang tidak terpakai menjadi sesuatu yang baru dan menarik, keterampilan motorik halus. Menempel, dan merangkai sedotan menjadi hiasan melatih koordinasi tangan dan mata serta kemampuan motorik halus anak, kesabaran dan ketekunan.  Proses membuat hiasan dari sedotan memerlukan waktu dan ketelitian, yang dapat mengajarkan anak untuk bersabar dan tekun dalam menyelesaikan tugas, keterampilan sosial dan Kerjasama. Anak-anak akan belajar untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan menghargai pendapat teman-temannya. Dengan adanya kegiatan ini yang menggabungkan berbagai keterampilan, anak-anak dapat belajar sambil bermain, mengembangkan kemampuan mereka dalam berbagai aspek, dan memiliki pengalaman yang menyenangkan serta edukatif.

94_ine dwi4 menit
Gaya Hidup

Kelompok 101 PMM UMM Memeriahkan Lomba 17 Agustus di Dusun Boro Urek-Urek, Asrikaton Pakis

 Malang, 3 Agustus 2024 – Kelompok 101 (PMM UMM) turut memeriahkan perlombaan dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke – 79 di Dususn Boro Urek - Urek, Sabtu 3 Agustus 2024. Kegiatan ini menjadi sebuah momen kebersamaan antara mahasiswa PMM dan  karang taruna setempat dengan penuh semangat kegembiraan. Berbagai macam lomba telah di persiapkan dan diadakan, mulai dari balap kardus, makan kerupuk, kursi goyang hingga panjat pinang sebagai puncak perlombaannya. Mahasiswa PMM aktif berpartisipiasi dan membantu karang taruna setempat sebagai panitia maupun peserta dalam menyelenggarakan lomba–lomba  tersebut. Warga setempat hadir menambah semarak suasana dan membangun keakraban dengan mahasiswa PMM. Salah satu mahasiswa PMM, Thoriq selaku Kordes dalam ungkapnya “Kami sangat senang dengan kolaborasi antar mahasiswa PMM dengan warga setempat, ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagi kami untuk merasakan kebersamaan, keakraban, serta gotong royong yang menjadi tradisi di Tengah masyarakat,” ujarnya. Miran selaku ketua karang taruna Dusun Boro Urek-Urek juga mmenyampaikan hal yang sama “ Kehadiran mahasiswa PMM UMM menambah suasana meriah bagi kami, dan juga sangat membantu untuk turut serta dalam kepanitiaan dan juga peserta di hari memeperingati Kemerdekaan Republik Indonesia, kami sangat berterima kasih atas kontribusi mereke,” katanya. Acara lomba yang berlangsung 5 hari dalam tiap akhir pekan ini, terjadi begitu meriah dan penuh keceriaan, berbagai hadiah menarik yang disiapkan menjadi salah satu semangat warga setempat mulai dari anak- anak hingga orang dewasa untuk ikut serta. Di tanggal 17 Agustus 2024, puncak dari perlombaan di mulai yaitu panjat pinang. Para warga berbondong bondong untuk menyaksikan keseruan lomba tersebut, di lomba ini kelompok PMM UMM ikut serta juga dan menjadi satu tim dengan beberapa warga yang mengikuti. Dari lomba ini ada pelajaran menarik yang bisa di ambil, yaitu mengajarkan untuk bekerja sama dalam meraih sesuatu, lomba ini juga memiliki makna saling gotong royong antar masyarakat dan juga semangat pantang menyerah. Pada momen kebersamaan ini di akhiri dengan foto bersama antara mahasiswa PMM dan warga dusun Boro Urek-Urek, sebagai tanda kenang-kenangan perayaan Hari Kemerdekaan yang penuh kehangatan.

Thoriq Nm4 menit
Gaya Hidup

Barikan, tradisi turun menurun di Desa Asrikaton

"Barikan" adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti "cerita" atau "kisah." Biasanya, barikan merujuk pada cerita atau dongeng yang disampaikan dalam bentuk lisan. Dalam konteks budaya Jawa, barikan sering kali melibatkan cerita rakyat, legenda, atau kisah-kisah tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun dalam konteks ini “Barikan” memiliki suatu arti simbolis masyarakat Jawa untuk ritual dan tradisi yang bertujuan menghormati, memperingati, atau memohon berkah dari Tuhan atau roh leluhur. Salah satu kegiatan mahasiswa PMM/KKN Universitas Muhammadiyah Malang yang beranggotakan 5 orang  adalah mengenal dan edukasi pelestarian kesenian di desa Asrikaton khususnya di dusun Boro Urek-Urek wilayah RW 06, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kordes PMM UMM Desa Asrikaton mengatakan, di dusun Boro Urek-Urek adalah desa yang memliki beberapa tradisi dan juga salah satu tempat untuk belajar tentang kesenian musik tradisional dan tari. Menurutnya ruang terbuka untuk kelompok kami sebagai mahasiswa memberikan edukasi untuk pelestarian tradisi dan kesenian kepada pemuda pemudi di dusun tersebut. “Kegiatan ini diharapkan membawa sentuhan baru dan harapan bagi masyarakat sekitar guna mendorong generasi muda untuk mengenal tradisi dan budaya di tempat tinggalnya.” terang Thoriq selaku Kordes PMM UMM Sebagai langkah awal, kelompok PMM UMM telah merancang kegiatan yaitu mengadakan Barikan sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan juga ramah tamah masyarakat sekitar khususnya generasi muda untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke 79. Tradisi yang sebelumnya sudah turun menurun namun jarang diikuti oleh para pemuda dan mulai pudar, kini menjadi fokus perhatian mahasiswa PMM untuk menciptakan ruang yang bermanfat dan menarik untuk diikuti. Sementara itu Dosen pendamping PMM UMM Lailatul Mauludiyah, S.S., M.Pd.I mengatakan, kolaborasi anatara mahasiswa PMM UMM dan masyarakat semoga menjadi kunci keberhasialan program kerja ini. Segala perisapan, kami beserta karang taruna dusun Boro Urek-Urek siapkan. Di sela kegiatan masyarakat berdatangan berbondong bondong membawa makanan seperti nasi tumpeng, buah buahan, kue dan sebagainya. Kegiatan berlangsung di awali pembukaan sambutan oleh kepala dusun Boro Urek-Urek dan menyanyikan lagu Indonesia Raya,dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasin dan Tahlil oleh tokoh agama dusun Boro Urek-Urek. Di ujung acara Barikan semua makanan yang masyarakat bawa akan dikumpulkan menjadi satu, untuk kemudian di bagikan kepada semua yang hadir, dan ada juga yang menukar makanan satu sama lain. Tapi tidak dengan pemuda yang hadir di acara barikan tersebut, mereka menjadikan satu makanan dan kami makan bersama guna mempererat ramah tamah para generasi muda. Ada pelajaran baik yang bisa di petik dari tradisi barikan, yaitu kerukunan warga tanpa membedakan agama dan budaya. Sebuah kearifan lokal yang patut diajarkan dan dilakukan seluruh lapisan usia masyarakat. Selain itu melestarikan budaya gotong-royong dan juga menghilangkan budaya egoisme. Dalam kehidupan sehari sehari, masyarakat kurang berinteraksi karena kesibukan masing-masing. Dengan tradisi ini masyarakat bisa hidup rukun dan berempati terhadap satu sama lain terutama generasi muda.

Thoriq Nm5 menit