
"Barikan" adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti "cerita" atau "kisah." Biasanya, barikan merujuk pada cerita atau dongeng yang disampaikan dalam bentuk lisan. Dalam konteks budaya Jawa, barikan sering kali melibatkan cerita rakyat, legenda, atau kisah-kisah tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun dalam konteks ini “Barikan” memiliki suatu arti simbolis masyarakat Jawa untuk ritual dan tradisi yang bertujuan menghormati, memperingati, atau memohon berkah dari Tuhan atau roh leluhur.
Salah satu kegiatan mahasiswa PMM/KKN Universitas Muhammadiyah Malang yang beranggotakan 5 orang adalah mengenal dan edukasi pelestarian kesenian di desa Asrikaton khususnya di dusun Boro Urek-Urek wilayah RW 06, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Kordes PMM UMM Desa Asrikaton mengatakan, di dusun Boro Urek-Urek adalah desa yang memliki beberapa tradisi dan juga salah satu tempat untuk belajar tentang kesenian musik tradisional dan tari.
Menurutnya ruang terbuka untuk kelompok kami sebagai mahasiswa memberikan edukasi untuk pelestarian tradisi dan kesenian kepada pemuda pemudi di dusun tersebut.
“Kegiatan ini diharapkan membawa sentuhan baru dan harapan bagi masyarakat sekitar guna mendorong generasi muda untuk mengenal tradisi dan budaya di tempat tinggalnya.” terang Thoriq selaku Kordes PMM UMM
Sebagai langkah awal, kelompok PMM UMM telah merancang kegiatan yaitu mengadakan Barikan sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan juga ramah tamah masyarakat sekitar khususnya generasi muda untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke 79.
Tradisi yang sebelumnya sudah turun menurun namun jarang diikuti oleh para pemuda dan mulai pudar, kini menjadi fokus perhatian mahasiswa PMM untuk menciptakan ruang yang bermanfat dan menarik untuk diikuti.
Sementara itu Dosen pendamping PMM UMM Lailatul Mauludiyah, S.S., M.Pd.I mengatakan, kolaborasi anatara mahasiswa PMM UMM dan masyarakat semoga menjadi kunci keberhasialan program kerja ini.
Segala perisapan, kami beserta karang taruna dusun Boro Urek-Urek siapkan. Di sela kegiatan masyarakat berdatangan berbondong bondong membawa makanan seperti nasi tumpeng, buah buahan, kue dan sebagainya.
Kegiatan berlangsung di awali pembukaan sambutan oleh kepala dusun Boro Urek-Urek dan menyanyikan lagu Indonesia Raya,dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasin dan Tahlil oleh tokoh agama dusun Boro Urek-Urek.
Di ujung acara Barikan semua makanan yang masyarakat bawa akan dikumpulkan menjadi satu, untuk kemudian di bagikan kepada semua yang hadir, dan ada juga yang menukar makanan satu sama lain. Tapi tidak dengan pemuda yang hadir di acara barikan tersebut, mereka menjadikan satu makanan dan kami makan bersama guna mempererat ramah tamah para generasi muda.
Ada pelajaran baik yang bisa di petik dari tradisi barikan, yaitu kerukunan warga tanpa membedakan agama dan budaya. Sebuah kearifan lokal yang patut diajarkan dan dilakukan seluruh lapisan usia masyarakat.
Selain itu melestarikan budaya gotong-royong dan juga menghilangkan budaya egoisme. Dalam kehidupan sehari sehari, masyarakat kurang berinteraksi karena kesibukan masing-masing. Dengan tradisi ini masyarakat bisa hidup rukun dan berempati terhadap satu sama lain terutama generasi muda.