#Minat & Bakat

Pendidikan

Membina Calon-calon Pemimpin Melalui Rumah Arsitek Peradaban

Rumah Arsitek Peradaban Indonesia, atau disingkat RAPI adalah lembaga Pengembangan minat dan bakat Mahasiswa yang berada di Kediri. Melalui lembaga ini, kami ingin menghadirkan sebuah program pembinaan yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan adanya Rumah ini, diharapkan seluruh peserta yang tergabung dalam pembinaan mendapatkan kepahaman mengenai bagaimana mengenal islam secara syumul, dan dengan keikhlasannya mampu menyiarkan kebaikan serta mencegah kemungkaran.   RAPI lahir atas dasar kepedulian akan kondisi saat ini, yaitu degradasi moral dan integritas yang dimiliki oleh pemuda. Pemuda terutama Mahasiswa adalah calon pemimpin yang akan menjadi Arsitek menyusun bagaimana jalannya Peradaban Indonesia. Oleh karena itu nasib bangsa ini bergantung pada pemuda yang saat ini sedang menjadi seorang mahasiswa. Coching Organisasi bersama FKI IIK Kediri   Progam pembinaan di RAPI tidak hanya berfokus pada personal namun juga organisasi. Program yang kita miliki yaitu Beasiswa Berbasis Asrama, Pelatihan, dan pengembangan Organisasi ataupun Personal. Pembinaan tersebut bergerak di bidang SDM, Sosial, Keilmuan, dll. Diharapkan dengan adanya pembinaan tersebut penerima manfaat dapat memaksimalkan potensi seusai minat dan bakat masing-masing. Adapun target dari penerima manfaat adalah dari kampus PSDKU UB Kediri, PSDKU Polinema Kediri, IAIN Kediri, IIK Kediri.   Dalam pelaksanaannya RAPI tidak bekerja sendiri, tetapi bekerja sama dengan berbagai elemen dan organisasi. Saat ini RAPI telah melaksanakan pembinaan, pelatihan, dan pengembangan dengan FKI IIK, KKI UB, dan Rohis Strada. Dikarenakan Pandemi yang belum reda akhirnya program beasiswa berbasis Asrama belum bisa dilaksanakan, jikapun dilaksanakan akan tidak maksimal. Oleh karena itu program kita fokuskan untuk melaksanakan coaching terhadap personal maupun organisasi. Webinar dan Galang Dana Palestina   Selain melaksanakan program pembinaan tersebut, kita juga melaksanakan program yang berbasis sosial seperti menanggapi isu Geopolitik Internasional tentang Palestina. Dikarenakan Penerima Manfaat diharapkan bisa menjadi Arsitek Peradaban Indonesia di masa depan, untuk itu kita mengajak mereka untuk berpikir kritis secara global. Program ini bukan hanya sebagai bentuk pencerdasan tapi juga menanamkan kepekaan terhadap sesama. Dalam program ini kita melaksanakan galang dan dan Webinar yang narasumbernya langsung dari palestina. Memberikan Training Organization Pesantren Pelajar Indonesia   Untuk saat ini program belum bisa dilaksanakan secara maksimal, dan mengharuskan kita untuk luring. Kedepannya RAPI akan terus berinovasi agar lebih baik dalam melasanakan program.

rijal helmy4 menit
Pendidikan

Berteman Dengan Yang Ditakuti

Minggu ini adalah minggu ke 5 komunitas Teman sekula aktif kembali, selepas libur hari raya idul fitri kemarin. Bersama-sama teman sekula di madrasah diniyah, kami belajar Bahasa Inggris dengan metode Games and Fun. Salah satu keseruan dari kegiatan kita sore ini adalah mengajari mereka senam dan bernyanyi dalam bahasa inggris. Sekitar 20 murid lebih mengikuti kelas ini, dengan latar belakang pendidikan beragam, mulai dari SD kelas 3 hingga SMP kelas 1. Sehingga menjadi hal wajar apabila kemampuan dan wawasan bahasa inggrisnya tidak sama rata.  Walaupun demikian, bermain dan bernyanyi menjadi media untuk menarik perhatian dan meningkatkan antusias dalam memahami kosa kata sekaligus penerapannya. Minggu ini kami mempelajari materi “How To Express Felling”. Semula, setiap anak diberi pertanyaan “gimana rasanya ikut teman sekula kembali ?”. kemudaian mereka mengungkapkan perasaannya dalam tiga kata melalui jawaban lisan. Menariknya, 100% dari santri teman sekula menggunakan kata Love sebagai jawaban mereka. Game dilanjutkan dengan menulis kalimat dalam Bahasa inggris, dimana teacher memberikan kalimat secara lisan untuk kemudian ditulis ulang oleh santri. Tujuannya adalah brainstorming materi pasca liburan dan mengukur kemampuan bahasa dari teman-teman sekula yang baru bergabung. Games kedua ini juga menunjukkan hal menarik, bahwa kemampuan dasar santri dibidang Bahasa masih sangat kurang. Memahami materi terkait feeling selama 4 minggu, memperkaya kosa kata baru bagi santri untuk mengungkapkan perasaannya. Hal tersebut dicerminkan dalam games “How Do You Feel?” dan lagu “If You’re Happy, and You Know it”. Keseruan dan antusias santri menjadi salah satu cara mereka menikamati Bahasa inggris, yang semula lawan, sekarang menjadi kawan. Syukur Alhamdulillah.. Proses belajar ini, kembali mengingatkan saya pada salah satu nasihat guru. Bahwa cara terbaik dalam bertumbuh adalah mengenali diri sendiri. Apa kekurangan dan kelebihan diri serta bagaimana pola dalam menghadapi beragam situasi. Karena perihal lawan, sejatinya musuh terdekat adalah diri sendiri dari apa yang ia belum selesai mengenali. “Banyak orang yang semula hidupnya dipandang bahagia ternyata berubah menjadi jatuh, sengsara, dan bahkan hina di mata masyarakat adalah karena terkalahkan oleh kekuatan hawa nafsunya sendiri.”-Prof Imam Suprayogo. Selamat belajar lebih bijak dalam mengenali diri ♥

ulfatu mahmuda3 menit
Volunteerism

Gempa Malang Selatan "Respon Cepat Penerima Manfaat Baktinusa Bersama Berbagai Elemen Dompet Dhuafa"

Awal Ramadhan 2021 yang biasanya masyarakat muslim bisa melaksanakan ibadah dengan khusyuk, tapi dihari itu tanggal Pada 10 April 2021 yang lalu Kab. Malang dan sekitarnya dilanda gempa bumi dengan kekuatan 6,1 SR, Kedalaman 25 KM terjadi di titik Lintang 8.95 LS, Bujur 112.48 BT yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan dibeberapa titik. Hasil laporan tim Respon menyatakan dampak bencana gempa diantaranya 8 orang meninggal dunia (3 orang di Malang dan 5 orang di Lumajang), dan 39 orang mengalami luka-luka. Terdapat berbagai jenis kerusakan bangunan diantaranya 1361 rumah rusak ringan, 845 rumah rusak sedang dan 179 rumah rusak berat. Posko Bencana Dhompet Dhuafa Berupa Dapur Ramadhan yang ada di dua dusun. Salah satu kawasan terdampak paling parah adalah Desa Wirotaman, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Merespon kondisi gempa tersebut, Dompet Dhuafa (DD) melalui kolaborasi tim Disaster Management Center (DMC), Dompet Dhuafa Volunteer (DDV), Bakti Nusa, dan Youlead berjumlah 22 orang personel terjun bersama membantu kawasan terdampak. Pada tanggal 12 Dompet Dhuafa telah menerjunkan Tim untuk melakukan Assesment, dan selanjutnya pendirian posko di Desa Wirotaman. Dalam Pelaksanaannya ada dua Posko di dua dusun, yang keduanya sebagai Dapur Ramadhan yang menyediakan berbuka bagi Warga Sekitar. Program ini berfokus pada pengadaan kotak makan 150-200 kotak setiap hari dengan takjil berserta minuman segarnya.    Tim Bakti Nusa bersama DDV dan DMC melangsungkan program giat bersih dalam menanggapi kerusakan rumah dan fasilitas umum yang terjadi. Program giat bersih berfokus pada bantuan tenaga dalam menyisihkan puing-puing bangunan yang roboh, seperti masjid, rumah warga, dan membantu pendirian tenda terpal darurat. Dalam pelaksanaannya kita tidak hanya bekerja sendiri dengan internal Elemen Dhompet Dhuafa, tapi kita juga berkolaborasi dengan berbagai lembaga Pemerintah, Relawan, dll. Pembagian makanan untuk berbuka puasa Mayarakat terdampak. Selain tanggap pada kerusakan materil, hasil assessment tim DD menunjukkan diperlukan adanya program yang membantu pemulihan psikologi warga setempat khususnya anak-anak.  Program Psychological First Aid (PFA) Oleh karenaya Psychological First Aid (PFA) menjadi salah satu program yang berfokus pada pemulihan yang menyasar anak-anak hingga remaja setempat. Berbagai aktivitas PFA diantaranya pola senyum sehat, senyum ceria dan senyum semangat. Program PFA diawali dengan senyum semangat yang dilakukan bersama di lapangan voli desa Wirotaman berupa permainan lokal bersama 57 anak-anak. Selain itu dikarenakan Kondisi Covid kita juga memberikan pencerdasan terkain protokol Kesehatan, tidak lupa juga kita melakukan kampanye menjaga kesehatan gigi dan mulut melalui penyuluhan terhadap anak-anak.   Terlaksanakanya program PFA membawa dampak yang cukup signifikan bagi tingkat kebahagiaan anak-anak. Dengan adanya program ini, anak-anak memiliki aktivitas produktif di siang hari dan berinteraksi bersama teman-temannya. Mengingat kondisi geografis desa wirotaman yang naik turun, membuat jarak antar rumah yang cukup jauh bagi anak-anak untuk bisa bermain tanpa pengawasan orang tua.    Perjalanan Marching for Boundaries (MFB) Bakti Nusa (Rijal Helmy Saiful Islam, Chaca Nugraha Zaid, Ulfatu Mahmuda, dan Hanif Hidayatun Nikmah) pada kawasan terdampak gempa membawa sudut pandang baru dalam melihat bencana yang terjadi di bumi pertiwi. Bahwa sebagai pemuda, kita diberikan kelimpahan waktu dan tenaga yang seharusnya diberdayakan untuk membantu masyarakat, terutama dalam kondisi terdampak bencana. Penyaluran Bantuan Kepada Terdampak Gempa.   Melihat Senyum mereka yang membutuhkan membuat kita teringat makna akan syukur dan ikhlas. Berkolaborasi dengan berbagai elemen juga mengajarkan kita akan makna gotong royong yang sudah mengakar dari bangsa ini.    

rijal helmy6 menit
Gaya Hidup

Kenapa Gagal Lebih Baik ?

Berapa banyak kegagalan kamu dalam sebulan terakhir? 1,2 kali? Atau sama sekali ? Kegagalan adalah indikator perjuangan. jangan-jangan kita tidak gagal karena tidak berjuang? Tidak berjuang karena terlanjur nyaman dengan yang sekarang atau karena tidak punya keberanian ?   Alih-alih fokus pada tujuan awal dalam berselancar, siang ini puluhan tab terbuka karena rasa bosan dan penasaran pada hal-hal yang terjadi pada dunia. Perasaan tertinggal informasi dan khawatir yang tidak perlu seringkali menghampiri perasaan saya. Serratus menit berkutat dalam layar 14 inch, jenuh mulai menghampiri. Kubiarkan tab terakhir masih mentah – kenapa saya tidak tertarik memiliki apapun? Apa perbedaan ikhlas dan menyerah ?- Tanpa hasil penelurusan mbah google, pertanyaan itu aku biarkan menyelam lebih dalam difikiran sembari membaringkan tubuh sejenak. Fikiranku melayang pada memori beberapa hari yang lalu, saat menjamu tamu jauh, teman baik dari Indonesia Timur. Dia adalah teman lama yang jarang menunjukkan kehidupanya di sosial media. Bahkan mungkin teman dekatnya tidak benar-benar mengetahui kabarnya, kecuali dia ditanya. Ekslusifitas katanya, hanya orang-orang tertentu yang di izinkan untuk menyelami hidupnya lebih dalam. Kepribadianya sederhana dan apa adanya membuat orang lain kadang meremehkan atau tidak melihatnya ada. Padahal menurutku, dia mutiara yang hampir matang sepenuhnya.  “Ukh, mengapa ada orang yang merasa lelah, padahal tidak melakukan hal berat ? apa benar ketempelan roh romusha itu benar adanya?” tanyaku dengan bumbu pertanyaan yang semoga tidak mengusik jiwa nasionalisme-nya.  Kutengok meja pelanggan sebelah, masih sama kosongnya, Menjamu tamu kali ini, memang wajib 'ain disesuaikan dengan requestnya. Jarang sekali dia meminta apalagi diutarakan tiga kali, sejak pertama keluar dari bandara- "Ke Bakso Veteran ya, Fa!". “Ada beberapa kemungkinan. Ibarat mogoknya motor kita tadi, ada beberapa prediksi dugaan untuk memperbaiki. Bisa bensinnya habis dan perlu isi ulang, atau sering dipakai tapi tidakpernah ganti aki, atau lebih parah lagi. Ah, tak aku duga, malang menyambutku dengan dorong motor sekilo. Bisa-bisanya kamu tega sama tamu” cara dia menjabarkan jawaban memang ga afdhol tanpa bumbu, dia masih orang yang sama. “Ukh, perutku sudah lapar sekali, bolehkah antum menjelaskan dengan sederhana?” pintaku mengalihkan sindirannya. Baiklah, mari dikui saja, motor ini memang jarang sekali masuk bengkel reparasi, mungkin sama dengan keadaanku sekarang ini.               “Coba aku Tanya kamu, dalam rangkaian hidup sebulan terkahir, berapa kali kamu merasa gagal?” pertanyanya staighforward, sambal menunjuk mangkok sambal di sampingku. Bakso kami sudah tiba dan waktunya meracik bumbu sesuai selera. “ Ga yakin ukh, semua berjalan lancar dan baik-baik saja. Tidak ada kegagalan berarti, tuh” sembari menyodorkan bumbu favoritnya. Sambel bakso disini memang beda. Pedesnya luar biasa. “Nah itu dia. Bisa jadi diagnosis pertama buat kamu adalah terjebak di zona nyaman. Kamu dimanipulasi oleh pikiranmu bahwa-Everything is okay. Where is not. You are not okay. Don’t yu feel like that?” diskusi memang jadi terapi terbaik sejauh ini, dibanding ceramah. Dengan cecaran pertanyaannya, memeras otak untuk refleksi dulu sebelum menjawab sah atau batal. “Wah, haqiqotun jiddan, ukh. apakah hal demikian bisa dikategorikan bagian dari ciri futur? “Sek bentar, kita selesaikan obrolan tadi. Zona nyaman itu seringkali mengampiri saat kita tidak memiliki goals yang pasti, fikiran kita akan merasa santai, tidak dalam kontrol yang ketat sehingga cenderung merasa tidak perlu melakukan apa-apa, tidak memiliki motivasi atau tidak menyadari untuk melakukan hal yang dulunya ingin kita capai.” Rasa lapar kai tertahan sejenak. Bakso tidak lebih menarik dari ilmu dari orang yang peduli. Karena part selanjutnya adalah main point obrolan kami “Ada cara sederhana -yang pernah kubaca dari alumni ITB. Tips buat ngevaluasi diri, apakah kita sedang berjuang atau malah tenggelam dalam zona nyaman” lanjutnya dengan garpu dan sendok yang sebenarnya sudah matang dipegang di kedua tangannya. “Kegagalan tu indikator perjuangan. Berapa banyak kegagalanmu dalam kurun waktu terakhir? 1,2 kali? Syukur kalau kegagalan kita karena sedang berusaha. Maka masih ada jalan lain menuju roma. Atau naujubillah, tidak merasa gagal sama sekali ? Coba direfleksi. Jejangan kita ngga gagal karena tidak berjuang? Nah, tidak berjuang karena terlanjur nyaman dengan yang sekarang atau karena tidak punya keberanian ?”                                                                                                                                                         “Pakeet!” suara nyaring tiba-tiba merusak selam pikirku. Ah paket apa ini yang datang? Sepertinya tidak ada yang sedang benar-benar aku ignin apalagi aku beli. “Iya Kang. sebentar” teriakku masih dalam usaha mencari kerudung paling simple untuk dikenakan. Sore ini, masih ada tiga jam sebelum waktu berbuka. Ada kesempatan untuk menunaikan to do list harian dan tentu saja, membuka kembali catatan resolusi 2021. Ah, alhamdululillah ala kulli hal- menyelam fikiran hari ini, tumben berbuah ingatan yang tidak sia-sia, ditulis pula. So, What's The Next ? 

ulfatu mahmuda6 menit
Hukum

Gemar Menulis Artikel Ilmiah Hukum, Dosen FH UMM Terbitkan Buku

Malang (25/4) - Menulis, seringkali menjadi dilema, terutama bagi dosen. Tri Dharma PT yang cukup kompleks, kadang menjadi alasan bagi dosen untuk lupa menulis. Melihat realitas tersebut, Sholahuddin Al-Fatih SH MH, dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) menyusun buku panduan penulisan jurnal. Buku berjudul Menulis Artikel Karya Ilmiah Hukum di Jurnal Nasional dan Internasional Bereputasi berhasil publish pada medio Maret 2021 lalu. Fatih–sapaan akrabnya, menyampaikan buku itu merupakan hasil kolaborasi bersama Dr H. Ahmad Siboy SH MH, dosen Universitas Islam Malang (Unisma). Karya itu telah di terbitkan pada bulan Maret lalu melalui Inteligensia Media.Fatih lantas bercerita pengalamannya menjadi pengelolah dan reviewer jurnal membuatnya paham kesulitan orang – orang baru yang ingin mengirimkan jurnal. Tak jarang, sebagian kalangan akademisi juga belum mengetahui alur penulisannya dengan baik. “Animo masyarakat dalam menulis jurnal sebenarnya besar, namun mereka tidak tahu bagaimana langkah – langkahnya. Mulai penulisan sampai jurnal itu diterbitkan. Akhirnya saya mengajak Gus Boy (sapaan Ahmad Siboy) yang juga pengelola jurnal untuk berkolaborasi membuat buku,” katanya. Buku setebal 120 halaman ini secara umum membahas tips dan trik terkait penulisan jurnal dari awal hingga terbit. Dalam prosesnya, Fatih dan Boy melakukan pembagian tugas yang spesifik. Di samping itu, buku yang mereka tulis ini menjadi salah satu langkah untuk mengubah persepsi masyarakat tentang Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama (NU) yang tidak akur. “Secara mazhab beragama saya dan Gus Boy mungkin berbeda, namun hal itu tak membuat kami berbeda di bidang kepenulisan. Kami sama, punya hobi menulis. Kami juga sama, sama-sama mengelola jurnal sebagai Editor in Chief,” jelasnya. Fatih menuturkan, nantinya ketika muncul cetakan baru, Fatih dan Boy akan memperbarui isi buku. Hal ini dilakukan karena sistem dalam jurnal selalu berubah – ubah. Ia juga mengatakan, pihak penerbit akan melangsungkan agenda bedah buku serta workshop dalam waktu dekat. “Saya sangat berharap buku ini bisa membantu para pembaca untuk mulai menulis jurnal. Selain itu dapat menjadi pemacu lahirnya karya – karya ilmiah lain yang berkualitas. Untuk kedepannya, saya tentu berharap kolaborasi antara Muhammadiyah dan NU bisa terus terjalin dengan baik dalam segala aspek,” tandasnya. (saf/mut/bhi)

Sholahuddin Al-Fatih3 menit