Tidak ada koneksi internet. Menampilkan data tersimpan.
  • Beranda
  • Berita
    Semua Berita
  • Kontak
  • Daftar
  • Masuk

Cari disini

×
Beranda / Berita / Kenapa Gagal Lebih Baik ?

Kenapa Gagal Lebih Baik ?

ulfatu mahmuda di Gaya Hidup
  • Senin, 3 Mei 2021 16:13:35
  • 7menit

Berapa banyak kegagalan kamu dalam sebulan terakhir? 1,2 kali? Atau sama sekali ? Kegagalan adalah indikator perjuangan. jangan-jangan kita tidak gagal karena tidak berjuang? Tidak berjuang karena terlanjur nyaman dengan yang sekarang atau karena tidak punya keberanian ?

 

Alih-alih fokus pada tujuan awal dalam berselancar, siang ini puluhan tab terbuka karena rasa bosan dan penasaran pada hal-hal yang terjadi pada dunia. Perasaan tertinggal informasi dan khawatir yang tidak perlu seringkali menghampiri perasaan saya. Serratus menit berkutat dalam layar 14 inch, jenuh mulai menghampiri. Kubiarkan tab terakhir masih mentah – kenapa saya tidak tertarik memiliki apapun? Apa perbedaan ikhlas dan menyerah ?- Tanpa hasil penelurusan mbah google, pertanyaan itu aku biarkan menyelam lebih dalam difikiran sembari membaringkan tubuh sejenak.

Fikiranku melayang pada memori beberapa hari yang lalu, saat menjamu tamu jauh, teman baik dari Indonesia Timur. Dia adalah teman lama yang jarang menunjukkan kehidupanya di sosial media. Bahkan mungkin teman dekatnya tidak benar-benar mengetahui kabarnya, kecuali dia ditanya. Ekslusifitas katanya, hanya orang-orang tertentu yang di izinkan untuk menyelami hidupnya lebih dalam. Kepribadianya sederhana dan apa adanya membuat orang lain kadang meremehkan atau tidak melihatnya ada. Padahal menurutku, dia mutiara yang hampir matang sepenuhnya. 

“Ukh, mengapa ada orang yang merasa lelah, padahal tidak melakukan hal berat ? apa benar ketempelan roh romusha itu benar adanya?” tanyaku dengan bumbu pertanyaan yang semoga tidak mengusik jiwa nasionalisme-nya.  Kutengok meja pelanggan sebelah, masih sama kosongnya, Menjamu tamu kali ini, memang wajib 'ain disesuaikan dengan requestnya. Jarang sekali dia meminta apalagi diutarakan tiga kali, sejak pertama keluar dari bandara- "Ke Bakso Veteran ya, Fa!".

“Ada beberapa kemungkinan. Ibarat mogoknya motor kita tadi, ada beberapa prediksi dugaan untuk memperbaiki. Bisa bensinnya habis dan perlu isi ulang, atau sering dipakai tapi tidakpernah ganti aki, atau lebih parah lagi. Ah, tak aku duga, malang menyambutku dengan dorong motor sekilo. Bisa-bisanya kamu tega sama tamu” cara dia menjabarkan jawaban memang ga afdhol tanpa bumbu, dia masih orang yang sama. “Ukh, perutku sudah lapar sekali, bolehkah antum menjelaskan dengan sederhana?” pintaku mengalihkan sindirannya. Baiklah, mari dikui saja, motor ini memang jarang sekali masuk bengkel reparasi, mungkin sama dengan keadaanku sekarang ini.              

“Coba aku Tanya kamu, dalam rangkaian hidup sebulan terkahir, berapa kali kamu merasa gagal?” pertanyanya staighforward, sambal menunjuk mangkok sambal di sampingku. Bakso kami sudah tiba dan waktunya meracik bumbu sesuai selera. “ Ga yakin ukh, semua berjalan lancar dan baik-baik saja. Tidak ada kegagalan berarti, tuh” sembari menyodorkan bumbu favoritnya. Sambel bakso disini memang beda. Pedesnya luar biasa.

“Nah itu dia. Bisa jadi diagnosis pertama buat kamu adalah terjebak di zona nyaman. Kamu dimanipulasi oleh pikiranmu bahwa-Everything is okay. Where is not. You are not okay. Don’t yu feel like that?” diskusi memang jadi terapi terbaik sejauh ini, dibanding ceramah. Dengan cecaran pertanyaannya, memeras otak untuk refleksi dulu sebelum menjawab sah atau batal. “Wah, haqiqotun jiddan, ukh. apakah hal demikian bisa dikategorikan bagian dari ciri futur?

“Sek bentar, kita selesaikan obrolan tadi. Zona nyaman itu seringkali mengampiri saat kita tidak memiliki goals yang pasti, fikiran kita akan merasa santai, tidak dalam kontrol yang ketat sehingga cenderung merasa tidak perlu melakukan apa-apa, tidak memiliki motivasi atau tidak menyadari untuk melakukan hal yang dulunya ingin kita capai.” Rasa lapar kai tertahan sejenak. Bakso tidak lebih menarik dari ilmu dari orang yang peduli. Karena part selanjutnya adalah main point obrolan kami

“Ada cara sederhana -yang pernah kubaca dari alumni ITB. Tips buat ngevaluasi diri, apakah kita sedang berjuang atau malah tenggelam dalam zona nyaman” lanjutnya dengan garpu dan sendok yang sebenarnya sudah matang dipegang di kedua tangannya. “Kegagalan tu indikator perjuangan. Berapa banyak kegagalanmu dalam kurun waktu terakhir? 1,2 kali? Syukur kalau kegagalan kita karena sedang berusaha. Maka masih ada jalan lain menuju roma. Atau naujubillah, tidak merasa gagal sama sekali ? Coba direfleksi. Jejangan kita ngga gagal karena tidak berjuang? Nah, tidak berjuang karena terlanjur nyaman dengan yang sekarang atau karena tidak punya keberanian ?”

                                                                                                                                                       

“Pakeet!” suara nyaring tiba-tiba merusak selam pikirku. Ah paket apa ini yang datang? Sepertinya tidak ada yang sedang benar-benar aku ignin apalagi aku beli. “Iya Kang. sebentar” teriakku masih dalam usaha mencari kerudung paling simple untuk dikenakan.

Sore ini, masih ada tiga jam sebelum waktu berbuka. Ada kesempatan untuk menunaikan to do list harian dan tentu saja, membuka kembali catatan resolusi 2021. Ah, alhamdululillah ala kulli hal- menyelam fikiran hari ini, tumben berbuah ingatan yang tidak sia-sia, ditulis pula. So, What's The Next ? 

Tag :

Minat & Bakat

Bagikan :

ulfatu mahmuda

    Mungkin Anda Tertarik

    1.

    Dosen UMM Raih Social Impact Award Dari FH UB
    Sholahuddin Al-Fatih di Gaya Hidup
    • Senin, 26 Juli 2021
    • 2 menit

    2.

    Mahasiswa PMM 30 Gelombang 7 UMM Sosialisasikan tentang Vaksinasi Covid-19 dan Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) Guna Menghadapi Pandemi COVID-19
    fesli fadhila di Gaya Hidup
    • Jumat, 16 Juli 2021
    • 3 menit

    3.

    Gerakan Literasi Digital Siberkreasi Kominfo Gandeng Akademisi FH UMM
    Sholahuddin Al-Fatih di Gaya Hidup
    • Sabtu, 5 Juni 2021
    • 3 menit

    4.

    Gerakan Puasa Sampah, Momentum Kontruksi Habitus Masyarakat Pasca Lebaran
    Nuria Riry di Gaya Hidup
    • Kamis, 6 Mei 2021
    • 8 menit
    © 2026 Malanghub . Made with , Designed byW3layouts

    Syarat dan KetentuanKebijakan Privasi