#Pengabdian Masyarakat

Pendidikan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Melakukan Survei lokasi Desa Sumbersekar, Kecamatan DAU, Malang

Kegiatan Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa (PMM) Kelompok 65 Gelombang 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang di lakukan di Desa Sumbersekar, Kecamatan DAU, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Senin tanggal 22 Agustus, kelompok 65 melakukan survei lokasi PMM dihadiri oleh seluruh anggota dan disambut meriah oleh ibu Pit.  Kegiatan PMM Bhaktimu Negeri merupakan salah satu kegiatan atau pembelajaran besar bagi seluruh mahasisawa UMM yang mana pada kegiatan ini mahasiswa mengabdikan diri secara nyata di masyarakat. Masyarakat merupakan sekelompok orang yang berada di suatu wilayah indonesia yang terjalin erat dengan konsep, hukum, dan ada istiadat  tertentu yang berlaku di dalam wilayah itu sendiri. Sebelum melakukan survei lokasi kami berdiskusi dengan kelompok untuk mengonsepkan bagaimana sikap kami nantinya ketika di kalangan masyarakat, mulai dari penampilan, bahasa, sikap dan lain sebagainya. Karena kami membawa nama UMM untuk bangsa demi masyarakat. Allhamdulillah kami di sambut dengan antusias oleh ibu Pit selaku ibu RW di Desa Sumbersekar. Sambil menikmati jamuan dari ibu Pit, tak salah dengar bahwa UMM sangat Luar Biasa untuk Masyarakat. Pada kegiatan PMM kelompok 65 merencanakan pembukaan pada tanggal 25 Agustus 2020 sesuai dengan arahan Desa Sumbersekar, yang beranggotakan Lukmanul Hakim, Galih Wahyu Nurbagas, Devi Anggriani, Nuranita, Siti Nadiyah Putri dari Jurusan Fisioterapi UMM dengan tema "Penyuluhan Desa Untuk Membangun kesadaran, Meningkatkan, dan Menjaga Pola Hidup Sehat Masyarakat Desa Sumbersekar". Kegiatan PMM ini dibimbing oleh Bapak SholahudinAl-Fatih, S.H.,M.H. Selaku dosen Pembimbing. 

Lukmanul Hakim2 menit
Pendidikan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan Kegiatan Pembukaan PMM di SDN Dinoyo 4

Kegiatan Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa (PMM) Kelompok 37 Gelombang 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dilakukan di SDN Dinoyo 4 yang berlokasi di Jl. MT. Haryono XIII/50 Malang, Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Kegiatan PMM ini telah resmi dibuka pada hari Senin tanggal 22 Agustus 2022. Pada acara pembukaan PMM dihadiri oleh Ibu Khusnul Khotimah, S.Pd Selaku Kepala sekolah dan beserta jajarannya.   Kegiatan PMM Bhaktimu Negeri merupakan kegiatan pembelajaran yang di ikuti oleh mahasiswa UMM yang dikembangkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat khususnya dalam hal ini siswa/i SDN Dinoyo 4. Bentuk dari kegiatan PMM yang dilakukan oleh Mahasiswa UMM ini yaitu pembuatan, pendampingan, penyuluhan pentingnya menanamkan budaya literasi kepada siswa/i. Edukasi seperti ini merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting di dalam dunia pendidikan untuk meningkatkan prestasi Generasi Muda. Kemampuan membaca merupakan dasar dalam menguasai berbagai bidang studi sehingga apabila anak pada usia sekolah dasar tidak mempunyai minat membaca, maka akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada tahap selanjutnya.   Kegiatan PMM ini beranggotakan Safira Zahra Ramadani, Dita Riana Putri, Syahrul Listianto, Retno Dian F.A, Alisa Dewanti dari Jurusan Ilmu Hukum UMM yang Mengangkat Tema “Meningkatkan Kemampuan Membaca Dengan Giat Literasi Dan Pojok Perpus SDN Dinoyo 4 Guna Membangun Generasi Muda Yang Cakap”. Kegiatan PMM ini dibawah Bimbingan Bapak Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing Lapang (DPL).   Pelaksanaan PMM tersebut diwujudkan dengan bentuk pemaparan materi terkait pentingnya Literasi, Bahaya gadget, PHBS (Pola Hidup Bersih Dan Sehat) serta melatih kreativitas siswa/i dengan cara melipat origami menjadi bentuk yang menarik.  Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan baca serta meningkatkan potensi siswa/i SDN Dinoyo 4 dan dengan edukasi ini diharapkan anak-anak selalu menerapkan literasi didalam setiap kegiatan belajarnya. Pembukaan ini di akhiri dengan melakukan sesi foto bersama Kepala Sekolah beserta jajarannya

Syahrul Listianto4 menit
Volunteerism

Bantu Tata Kelola Pelayanan Air Bersih, Tim Dosen Polinema Launching Aplikasi SIPAS

Tim Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Polinema berupaya untuk memberikan solusi mengenai permasalahan yang terjadi pada BUMDes Wringinsongo, terutama unit jasa pelayanan air bersihnya, yaitu terkait pencatatan rekening air. BUMDes berkewajiban mempertanggungjawabkan kegiatan operasionalnya kepada seluruh stakeholder terutama pengguna layanan air bersih. Dengan adanya pencatatan yang lebih akuntabel, diharapkan meningkatkan kepercayaan warga desa terhadap pengelola BUMDes. Di era digital seperti saat ini, aplikasi SIPAS dapat mempermudah pekerjaan pengelola BUMDes.   Pengenalan aplikasi SIPAS kepada pengelola BUMDes dan masyarakat ini pun diawali dengan studi pendahuluan oleh Tim PPM Polinema dengan melakukan FGD bersama beberapa perangkat desa, pengelola BUMDes, serta perwakilan warga. FGD pertama dilakukan tanggal 17 Januari 2022. Ibu Henny selaku pengelola unit jasa pelayanan air bersih menyampaikan bahwa saat ini jumlah pelanggan air terus mengalami peningkatan, dari akhir tahun 2021 sejumlah 207 pelanggan menjadi sekitar 230 pelanggan. Jumlah pelanggan air yang terus menerus mengalami peningkatan ini menimbulkan kekhawatiran adanya kesalahan pencatatan maupun rekapitulasi data pembayaran air, karena keterbatasan kemampuan pencatatan yang masih dilakukan secara manual. Selain permasalahan pencatatan yang manual, banyaknya masalah teknis diantaranya tagihan yang masih menunggak, tidak adanya punishment berupa denda kepada warga yang menunggak, serta tarif yang diberlakukan masih belum memperhitungkan biaya admin juga dapat berdampak pada keberlangsungan pengelolaan air di Desa Wringinsongo.   Dengan bekal itulah, tim PPM Polinema yang diketuai oleh Dimas Wahyu sebagai tim Infrastruktur IT, serta beberapa anggota tim yang terdiri dari Annisa Fitriana dan Rosy Zandra sebagai tim akuntansi, M. Akhlis Rizza dan MS. Khairy sebagai tim pengembang sistem berusaha memberikan solusi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada unit layanan air bersih BUMDes Wringinsongo melalui pengembangan aplikasi berbasis mobile dan website yang dinamakan SIPAS (SIstem Pencatatan Air bersih wringinSongo). Secara umum, aplikasi ini membantu para pengelola untuk melakukan pencatatan secara digital. Petugas berkeliling ke pelanggan untuk mengecek meteran dengan mencatatnya pada aplikasi mobile SIPAS. Data-data yang dimasukkan ke dalam aplikasi mobile dapat dilihat juga pada aplikasi SIPAS berbasis web. Pengelola dan petugas dapat melihat data-data tagihan serta rekapitulasi dalam rentang waktu tertentu. Pelanggan juga dapat mengecek sewaktu-waktu tagihan serta pelunasannya pada system.   Antusiasme pengelola BUMdes serta beberapa perangkat desa dalam peluncuran apilkasi tersebut juga sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari uji coba pertama dan kedua yang langsung dibawah pengawasan Bu Lurah pada tanggal 17 dan 18 Juni 2022 dan tim PPM Polinema mengevaluasinya melalui kuesinoner. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya kemudahan dari penerapan aplikasi. Aplikasi SIPAS juga membantu pengelola air bersih dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, sehingga pendirian BUMDes yang sejatinya memiliki peranan penting dalam mewujudkan cita-cita masyarakat dan pemerintah desa agar desa memiliki daya ungkit ekonomi lokal dapat terwujud.

Muhammad Shulhan Khairy5 menit
Volunteerism

Melalui Perdes, Tim Pengmas UB Bantu Tata Kelola Air Pertanian di Lumajang

Lumajang (5/8) - Air bagi petani tak ubahnya papan tulis dan spidol bagi guru. Tanpa air, petani akan kesulitan mengairi lahan pertanian mereka, terlebih jika musim kemarau tiba. Sehingga, tata kelola air pertanian sangat dibutuhkan bagi keberlanjutan generasi yang akan datang.   Dilandasi pada kebutuhan tata kelola air pertanian yang berkelanjutan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) dari FHUB melakukan pengmas di Desa Yosowilangun Lor, Kabupaten Lumajang (4/8) kemarin. Tim Pengmas FH UB yang beranggotakan Prof. Dr. M. Fadli, Dr. Aan Eko Widiarto, Triya Indra R, MH., Afrizal M. Wibowo, MH., Sholahuddin Al-Fatih, MH., dan Marsudi Dedi Putra, MH., secara berkelanjutan mendampingi warga desa Yosowilangun Lor dalam merumuskan regulasi tata kelola air pertanian yang berkelanjutan   "Tahun lalu kami bersama warga berdiskusi merumuskan norma apa saja yang penting untuk diatur dalam Peraturan Desa. Tahun ini kita lakukan sosialisasi Peraturan Desa yang sudah kita buat bersama warga serta membantu tata kelola dan tata laksana implementasi Perdes tersebut." Ungkap Afrizal, salah satu anggota tim Pengmas FHUB   Melalui Perdes Nomor 7 Tahun 2021 tentang Tata Kelola Air Pertanian yang Berkelanjutan tersebut, diharapkan warga Yososiwlangun Lor sadar akan pentingnya menjaga sumber day air demi generasi yang akan datang.    "Aturan ini dibuat agar kami sama-sama sadar akan pentingnya keberadaan air bagi lahan pertanian. Ada sanksi yang disepakati bagi pelanggar Perdes. Tapi ada juga Begasak yang dibagi dari hasil keuntungan pengelolaan lahan pertanian pasca panen. Begasak itu bisa berupa uang atau padi dan hasil pertanian lain di lahan kami." Ungkap Hendro, salah satu perangkat desa Yosowilangun Lor    

Sholahuddin Al-Fatih3 menit
Ekonomi

Pak Bagong, Perajin Batok Kelapa Asal Desa Samar Tulungagung

Tulungagung – Rabu (15/6), Sebanyak dua belas mahasiswa Universitas Negeri Malang berkesempatan mengunjungi perajin batok kelapa di Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler pada Semester Antara 2021/2022 Universitas Negeri Malang (UM) yang bertujuan untuk mengetahui rutinitas industri kerajinan yang selama ini digeluti warga Desa Samar.     Pak Suwarno atau yang lebih dikenal dengan Pak Bagong yang merupakan perajin batok kelapa, Pak Bagong menuturkan bahwa dirinya bekerja sendiri dengan jam kerja yang tak menentu setiap harinya. “Sehari bisa 6-7 set (kerajinan). Jam kerjanya ndak menentu, sih. Sesuai mood," ujarnya setengah tertawa ketika ditemui di rumahnya di Dusun Krajan, Desa Samar.   Pak Bagong menyadari bahwa pekerjaannya mengalami kendala pada tenaga kerja, terlebih saat permintaan kerajinan meningkat, misalnya menjelang Idul fitri. "Kalau hari raya (Idulfitri), bisa sampai (mendapat) 50 pesanan," lanjutnya. Tetapi permintaan yang meingkat tersebut tidak berlangsung lama dikarenakan minat pasar selalu mengalai pasang-surut. Pada waktu-waktu tertentu bahkan hampir tak ada pesanan.     Pak Bagong mampu membuat kerajinan batok kelapa dalam berbagai bentuk antara lain pajangan rumah, toples camilan, gantungan kunci, pot bunga, peralatan makan, dan berbagai furniture lainnya. “Kalau ada contoh desainnya, seperti foto, gitu, tambah gampang dan cepet,” jelasnya. Harga yang ditawarkan Pak Bagong sangat terjangkau jika ditinjau dari kualitas produk yang diberikan. Untuk satu set toples camilan, Pak Bagong menjualnya seharga 120 ribu rupiah. Sementara itu, gantungan kunci dijual 2 ribu rupiah per buahnya. Namun, harga tersebut dapat berubah seiring permintaan atau kerumitan desain, dan jumlah pesanan.     Berdasarkan penuturan Pak Bagong, ia menjual hasil kerajinannya dari mulut ke mulut. Kemudian saat diberikan informasi mengenai kemungkinan keberhasilan pemasaran lewat online, Pak Bagong merasa antusias sekali, sebab Pak Bagong tidak begitu ahli dalam menggunakan situs jual beli online. “Kalau bisa dibantu (menjual via marketplace) seperti itu, akan bagus,” katanya. Mayoritas perajin di Desa Samar menggunakan strategi pemasaran “mulut-ke-mulut” untuk memperluas jangkauan pasar. Hal ini disebabkan warga desa kurang memiliki kemampuan pemasaran online. Padahal, pemasaran online melalui e-commerce dapat memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan penjualan dengan pesat. Tidak hanya konsumen lokal Desa Samar ataupun Kabupaten Tulungagung, tetapi juga seluruh Indonesia dan ke manca negera.     Guna memaksimalkan pemasaran kerajianan batok kelapa, perlu adanya pertimbangan baik dari segi efektivitas, finansial dan yang lainnya. Jika kerajinan batok kelapa milik Pak Bagong dipasarkan melalui marketplace, hal yang perlu ia pertimbangkan adalah masa produksi. Hal ini dikarenakan waktu produksi tiap pesanan di marketplace, sebut saja Shopee, biasanya dibatasi selama 7 hingga 15 hari. Sedangkan, waktu pembentukan batok kelapa menjadi—sebut saja—toples camilan, memakan waktu yang cukup lama, mulai dari tahap mengukir sampai tahap finishing-nya, yakni memelitur.   Reporter: Yemima Thorchi dan Gina’ Ulkhair

Yemima Thorchi14 menit