Malang, 15 Februari 2023 - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan program pengabdian masyarakat di Desa Lang Lang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Program ini bertujuan untuk meningkatkan potensi objek wisata Pakis Sumber Suceng.
Pakis Sumber Suceng merupakan sumber mata air alami yang menghasilkan air jernih dan segar. Keindahan alam sekitar, hutan hijau, dan udara yang sejuk menjadikan tempat ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.
Mahasiswa UMM bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah desa untuk mengembangkan infrastruktur yang dibutuhkan untuk memfasilitasi kunjungan wisatawan. Hal ini termasuk pembangunan akses jalan yang baik, pembuatan penunjuk jalan, pembersihan dan perbaikan tempat wisata, dan fasilitas pendukung lainnya. Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, program ini juga fokus pada pelatihan dan pengembangan usaha mikro di sekitar objek wisata.
Adanya program ini diharapkan dapat meningkatkan infrastruktur melalui promosi tempat wisata yang baik, dan diharapkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Sumber Suceng akan meningkat secara signifikan. Selain itu, pengembangan usaha mikro dan pelatihan ekonomi akan memberikan peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat lokal, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka. Melalui edukasi dan pengelolaan lingkungan yang baik, diharapkan masyarakat dan wisatawan akan lebih sadar akan pentingnya melestarikan alam dan lingkungan sekitar.
Program pengabdian masyarakat oleh mahasiswa UMM di Desa Lang Lang yang bertujuan untuk meningkatkan potensi objek wisata Sumber Suceng merupakan langkah nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Melalui kolaborasi aktif antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah desa, diharapkan objek wisata ini dapat menjadi contoh bagaimana pendidikan tinggi dapat berperan dalam menggerakkan pembangunan lokal yang berkelanjutan.
Dikatakan oleh Ketua Program Pengabdian Masyarakat, Dr. Eng. Eko Wahyudi, S.T., M.T., "Program ini merupakan bentuk kontribusi nyata UMM dalam mendukung pembangunan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya. Kami berharap program ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Lang Lang, baik dalam hal peningkatan kesejahteraan ekonomi maupun pelestarian lingkungan."
Dikatakan oleh Kepala Desa Lang Lang, H. Suharto, "Kami sangat berterima kasih atas dukungan UMM dalam meningkatkan potensi objek wisata Pakis Sumber Suceng. Kami berharap program ini dapat menjadi awal yang baik bagi pengembangan desa kami menjadi desa wisata yang mandiri dan berkelanjutan."
Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Malang adalah organisasi Perempuan di bidang advokasi dan pemberdayaan yang pengurus dan anggotanya mayoritas adalah perempuan dengan berbagai ragam Disabilitas (fisik, sensorik, mental, intelektual). Sebagian anggota dari HWDI adalah pelaku usaha dan penggiat UMKM yang dikembangkan secara mandiri sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki masing-masing anggotanya.
“Tujuan dari himpunan wanita yang berdiri pada tahun 2007 ini yaitu untuk merealisasikan hak-hak tentang penyandang disabilitas yang termuat dalam UU No.08 Tahun 2016. Selain itu, HWDI ingin menjadi sarana untuk membantu mewujudkan potensi dari anggota sepenuhnya,” tutur Ibu Siswinarsih selaku Pembina HWDI Cabang Malang.Untuk memperkenalkan kelebihan dan karya dari anggota, HWDI Malang mempersembahkan sebuah Video Company Profile dengan judul “CAHAYA” yang dirilis pada tanggal 30 Mei 2023.
CAHAYA merupakan salah satu judul puisi yang dibuat oleh bu Anita FN Soenardi, Salah satu anggota HWDI Malang yang memiliki bakat dalam menulis buku. Cahaya merupakan sinar terang yang berasal dari suatu tempat, cahaya ini kami gambarkan sebagai para penyandang disabilitas yang selalu bisa bersinar dimanapun mereka berada dengan kemampuannya tanpa adanya suatu halangan. Selain menampilkan dari beberapa bakat anggota HWDI, dalam video Cahaya juga menjelaskan bagaimana HWDI Malang didirikan dan memperkenalkan mengenai pengurus sekaligus kegiatan HWDI Malang. Dalam Video Profile Cahaya, terdapat juru bahasa isyarat yang bisa membantu dan memfasilitasi teman-teman tuli dan wicara untuk menikmati video ini.
“Mengangkasa citra diri sejati, Di ruang gelap ada cahaya ,Di keterbatasan ada ruang harapan ,Terasa nyata digenggam tangan”-Anita FN Soenardi.
Mari berkenalan lebih dekat dan Jangan lupa saksikan Video Profile HWDI Malang 2023 : Cahaya di Youtube HWDI Malang. https://youtu.be/ObrIEuorE00
Malang (15/3) - Demokrasi selalu menarik untuk diceritakan, sebab lika-liku demokrasi tergantung pada banyak faktor. Atas perhatian terhadap isu-isu demokrasi yang ada, CitizenoS, sebuah NGO/LSM di Estonia, mengundang para talenta berbakat dari penjuru dunia untuk berbagi kisah mengenai demokrasi di negara mereka dan upaya mencari jalan keluarnya. Salah satu peserta yang terpilih dan diundang ke Estonia oleh CitizenOS adalah dosen Fakultas Hukum UMM, Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. Dalam program Democracy Defenders Accelerator (DDA) Bootcamp, pada 27 Maret - 5 April 2023 di Estonia lalu, Fatih bercerita mengenai kondisi demokrasi di Indonesia, terutama yang terjadi pada generasi mudanya.
Fatih mengatakan rendahnya partisipasi anak muda dalam pemilu membuat kemungkinan kecurangan menjadi lebih besar. Karena hak pilih yang seharusnya terisi menjadi kosong (golongan putih). Sehingga bisa dicurangi oleh beberapa pihak. Keresahan Fatih itu, ia diskusikan dengan 30 perwakilan dari berbagai negara di dunia, seperti Kanada, Belanda, Rumania, Filipina, Australia, Afghanistan, Nigeria, Meksiko, Italia, Albania, Russia dan sebagainya.
“Ide sederhana saya, anak muda itu harus dibuatkan camp atau mini-workshop guna merubah paradigma mereka soal demokrasi dan partisipasi dalam pemilu. Saya menamakannya Malang Young Leader Camp (MYLC). Melalui DDA Bootcamp inilah saya berharap dapat ide segar untuk merealisasikan program MYLC. Alhamdulillah lolos, setelah melalui proses seleksi berkas administrasi dan wawancara dengan panelis dari 3 negara.” jelas Fatih.
Lebih lanjut, Fatih mengungkapkan permasalahan demokrasi yang ada Indonesia justru tidak banyak ditemukan di negara lainnya. Ia justru menemukan bahwa Jerman memiliki permasalahan demokrasi terkait konflik ras di pemerintahannya. Kemudian Belanda dengan masalah digitalisasi demokrasinya dan negara Afghanistan yang memiliki persoalan terkait keadilan berpendapat dan isu seputar HAM bagi pengungsi pasca Taliban berkuasa.
“Dari hasil diskusi, ditemukan permasalahan utama yang ada di berbagai negara yaitu tentang kurangnya kesadaran anak muda di dunia dalam menggunakan media sosial. Permasalahan itu kemudian menjadi fokus untuk dikerjakan selama satu tahun ke depan,” terang Fatih.
Menariknya, program yang Fatih ikuti dilaksanakan bertepatan dengan puasa Ramadhan. Sehingga selama berpuasa di negara bagian Eropa Utara itu, Fatih mengalami beberapa culture shock. Mulai dari makanan halal yang sangat sulit didapatkan hingga menjalani puasa selama 16 jam.
“Alhamdulillah melalui program ini banyak hal baru yang didapatkan. Insyaallah bisa saya implementasikan sebagai model pembelajaran di kelas. Kemudian wawasan saya tentang demokrasi juga bertambah,” ungkap Fatih.
Terakhir, Fatih berharap akan ada lebih banyak dosen dan juga mahasiswa yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan sejenis sebagai aktualisasi nyata rekognisi internasional sesuai milestone UMM. Selain itu, dosen sekaligus staf bagian kerjasama internasional itu juga menyampaikan sedang melakukan penjajakan agar UMM dan CitizenOS bisa bekerja sama. Tidak hanya dengan NGO terkait, tapi kedepannya juga bisa melakukan kerja sama dengan beberapa kampus ternama di Estonia, misalnya Universitas Tallin atau Universitas Tartu. (zak/wil/saf/hum)
Legality: Jurnal Ilmiah Hukum yang merupakan jurnal Fakultas Hukum (FH) UMM, baru saja mendapatkan rekognisi internasional melalui pengindeks Scopus pada awal Maret 2023 ini.
Capaian membanggakan tersebut tidak lepas dari berbagai upaya FH dalam meningkatkan kualitas. Editor in Chief Legality, Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. menjelaskan bahwa akreditasi tersebut tidak diraih dalam waktu yang singkat. Pada awal 2019, jurnal tersebut baru mendapatkan indeks Sinta 4. Kemudian membutuhkan dua tahun untuk bisa mencapai Sinta 2 pada 2020. Upaya itu juga diteruskan oleh Fatih dan tim dengan menyiapkan artikel-artikel berkualitas untuk mendapatkan indeks Scopus. Hingga akhirnya mendapatkannya pada awal Maret 2023.
“Jurnal Legality FH UMM ini menjadi jurnal pertama yang mendapatkan akreditasi Scopus di kalangan FH kampus swasta se-Indonesia. Bahkan, di kalangan FH PTMA (sebutan untuk lingkup kampus di bawah naungan Muhammadiyah), belum ada yang terindeks Scopus, ya baru Legality ini. Dan di tingkat Malang Raya, Legality ini jadi yang pertama terindeks Scopus, PTN dan PTS lho ya.” tambahnya menegaskan.
Dosen asal Gresik ini melanjutkan bahwa ada banyak benefit yang didapatkan jika jurnal yang diterbitkan sudah terindeks secara internasional. Misalnya saja terkait isi artikel yang makin banyak dibaca dan dikunjungi karena berada di dalam database jurnal terindeks Scopus.
“Melalui jurnal ini, kami juga ingin mendorong para dosen untuk bisa melahirkan artikel ilmiah yang berkualitas dan mampu menembus jurnal internasional. Hal ini juga sekaligus memberikan jalan bagi mereka untuk bisa mencapai jabatan akademik sebagia guru besar. Apalagi publikasi ini juga menjadi syarat yang seringkali menghalangi para dosen,” katanya.
Terakhir, ia berharap capaian ini juga memotivasi pengurus jurnal lain, utamanya yang ada di Kampus Putih UMM. Dengan begitu, akan makin banyak penelitian berkualitas yang dipublikasi dan meramaikan dunia akademik. Kemudian, penelitian itu juga bisa dilanjutkan menjadi sebuah produk atau metode dalam menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di tengah masyarakat. (*ri/wil/saf)
"Kalau Allah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya serta memiliki sebuah tujuan dan tidak main-main, lalu kenapa kita leha-leha dan terserah apa kata dunia?” - M Adnan Fatron
Berbicara mengenai Future Leader Challenge (FLC) yang merupakan sebuah rangkaian orientasi dan internalisasi program serta pengukuhan calon penerima manfaat BAKTI NUSA sebanyak 50 orang yang terdiri dari 14 kampus ternama di Indonesia, FLC dilakukan secara hybrid (daring melalui zoom meeting pada tanggal 21-22 Januari 2023 dan luring yang bertempat di kota solo pada tanggal 27-29 Januari 2023). Agenda utama FLC ini yaitu pelatihan orientasi program, public event, penandatanganan akad, leadership sharing, dan team building.
Alhamdulillah, dengan menjadi salah satu dari 50 orang Penerima Manfaat (PM) terpilih dengan latar belakang kepemimpinan yang berbeda-beda, membuat aku mendapatkan banyak pelajaran di setiap kegiatan orientasi FLC yang menjadi langkah awal kebermanfaatan selanjutnya. Tema FLC kali ini yaitu “We Create, Build, and Preserve” yang mengambil inspirasi dari kondisi sejarah Bangsa Indonesia yang sarat akan nilai-nilai budaya. “We Create” berarti kami mendorong terciptanya inovasi gagasan karya dari PM BAKTI NUSA angkatan 12. “We Build” berarti FLC berorientasi pada pembangunan dan kolaborasi melalui rangkaian program dan leadership project. “We Preserve”, berarti menjaga yang dalam kamus Oxford berarti to keep something safe or in good condition; menjaga nilai-nilai, budaya, dan cita-cita luhur bangsa ini. FLC 2023 berfokus pada penciptaan inovasi pembaharuan untuk memberikan solusi pada permasalahan sosial sesuai dengan zamannya secara terbuka dan progresif berdasarkan jalan kepemimpinan masing-masing Penerima Manfaat BAKTI NUSA. Hal ini sesuai dengan hadits bukhari & muslim yang berbunyi :
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling mengokohkan.’ Kemudian beliau menganyam jari-jemarinya.” [HR. Al Bukhari & Muslim. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu]
Profil utama yang ingin diharapkan berada pada diri setiap penerima PM adalah pemimpin yang Berintegritas, Cendekia, Transformatif, dan Melayani masyarakat. Pada FLC daring, profil tersebut disampaikan melalui Seminar, Talkshow dan Diskusi yang interaktif yang menghadirkan pemateri yang luar biasa. Salah satu materi yang aku highlight yaitu materi kedua “Young and The Future of Zakat Movement” yang disampaikan oleh bapak Bambang Suherman yang merupakan (Ketua Umum FOZ), Beliau menyampaikan bahwasannya seorang pemuda adalah masa depan dari gerakan kebaikan yang ada, produktivitas dari diri pemuda dapat dilihat dari kehadiran nya pada setiap kebaikan serta gerakan yang akan dibuat juga ajakan untuk terus berbuat kebaikan pada sekitar, “Selalu sediakan hati kita untuk peduli kepada sesama, gunakan semua kompetensi, ruang kendali dan ruang pengaruh kita untuk itu” - Bambang Suherman.
Hari kedua adalah Public Event “Walk The Talk” yang terbuka untuk umum, dengan menghadirkan 3 pemateri yaitu pak Aminum Amin (CEO Biomagg Sinergi Internasional), mas Adhika Widya Sena (Direktur HRD P&G) dan pak Muhammad Syafi’ie (Kepala LPI_dd 2017-2022), diskusi yang terbangun sangat menarik dan mendapatkan banyak insight positif dari setiap jawaban yang dilontarkan, seperti saat ditanya tentang “Menjadi berdampak itu seperti apa?” pak amin menjawab, berdampak itu dapat terlihat dari kebermanfaat yang kamu dapat hasilkan dalam lingkungan rumahmu terlebih dahulu, dan menjadi berdampak maka kamu harus bisa menciptakan sebuah inovasi dan menjadi seorang visioner yang dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain (peluang kebermanfaatan). Pesan dari kak Adhika untuk kita yaitu “Just do good, rezeki ikut” dan temukan Reason we build dari diri kalian masing-masing. Pak Syafi’ie juga memberikan kita tips agar bisa mengelola waktu lebih baik lagi dengan menjadikan kita sebagai subjek bukan objek, dengan menjadikan diri kita sebagai subjek maka kita bisa mengelola semua waktu itu sesuai dengan jadwal kita.
Saat FLC luring kita para PM dari seluruh indonesia menginap di asrama haji Boyolali, Solo. asrama haji inilah yang menjadi saksi dari keretakan ukhuwah/persaudaraan, kerekatan dengan Allah dan semangat pada pemuda untuk menjadi bermanfaat, banyak kejadian yang bisa diceritakan saat FLC luring ini salah satunya aku yang tergabung pada kelompok 10 bersama teman-teman yang berasal dari solo yaitu (Hasna), makassar (Faudzul), palembang (Rahma) dan padang (Habibie) yang di fasilitatori oleh kak poppy sebagai fasil dari BA 11, mencoba berbagi cerita dan menyelesaikan misi yang ditugaskan para panitia.
Kejadian tak terlupakan adalah saat hari pertama FLC, kita diwajibkan untuk bangun jam 3 pagi dan melakukan sholat tahajud bersama di masjid kompleks asrama haji, dengan suasana yang masih dingin kita berbondong-bondong menuju masjid, sholat tahajud yang biasanya hanya 10-20 menit kini menjadi 1 jam sendiri, yang biasanya imam hanya membaca setengah halaman atau surat dari juz 30, yang biasanya setelah tahajud kita membaca al-quran sambil menunggu adzan subuh, kini agak berbeda masyaallah sekali, semoga keberkahan selalu menyelimuti kita semua.
Di malam puncak, juga ada penampilan dari setiap regional yang membawakan khas budayanya masing-masing, seperti pada regional palembang membawakan tarian khas pada palembang yang menggambarkan kecantikan dari perempuan-perempuan palembang, dengan pakaian dan aksesoris yang digunakan mendukung tarian seakan-akan kita berada di palembang langsung. kemudian ada penampilan dari regional malang yaitu penampilan drama musikal yang mengangkat isu tragedi kanjuruhan dan memperkenalkan tarian topeng serta bahasa walean yang menjadi ciri khas dari kota malang. dan masih banyak lagi penampilan-penampilan khas budaya masing-masing regional yang patut kita acungkan jempol dan perlu kita cari tahu secara mendalam filosofi dan sejarah budaya indonesia tersebut, agar terus lestari dan bisa kita wariskan pada anak cucu kita kelak.
Hari terakhir kita diajak untuk menelusuri bangunan-bangunan bersejarah kota solo, yang mana setiap kelompok memiliki jalur destinasi nya masing-masing, dan kelompok ku kelompok 10 mendapatkan jalur destinasi ke pasar keris&cinderamata-pasar klewer-keraton kasunanan. Banyak hal-hal menarik yang bisa aku simpulkan dari kegiatan, yang awalnya kita hanya diberikan bekal uang sebanyak 50.000 rupiah harus mengunjungi 3 tempat tersebut, yang mana kalau di hitung uang tersebut gak akan cukup jika kita memakai gojek online (khas anak muda). Dengan berbekal kerjasama dengan kelompok lain, kita mencoba untuk menumpang pada kendaraan-kendaraan yang lewat di setiap jalan. ahaha kalau di ingat-ingat bikin takjub karena sebagian orang udah pesimis gak bakal ada yang bantu, karena daerah ini adalah daerah minim begituan.
Tapi dengan tekat, usaha dan keberuntungan akhirnya kita coba meminta tolong dengan khas tangan jempol, alhamdulillah ada 2 pengemudi pick-up yang mau menampung kita, pengemudi pick-up pertama mengantarkan kita ke pemberhentian BST (Bus Solo Trans) yang nantinya sesuai arahan, BST tersebut akan mengantarkan kita ke titik pertama yaitu pasar keris&cinderamata, tapi karena ada beberapa teman kelompokku yang tidak mempunyai e-money sehingga kita mencoba keberuntungan lagi dengan menyetop pick-up, alhamdulillah ada yang mau bantuin, seorang pengemudi yang sedang mengantarkan tempe ke distributor membantu kita, usut punya usut ternyata bapak pengemudinya adalah seorang relawan juga yang tahu bagaimana susahnya mencari tumpangan.
Memang benar ya, kadang kita cuma harus terus optimis dan mengusir pikiran-pikiran negatif akan ketidakmungkinan sesuatu itu terjadi, masih banyak orang baik di luaran sana, kita hanya perlu husnudzan dan mencoba untuk mencari orang baik itu lalu kemudian kebaikan yang ditularkan itu kita implementasikan nanti.
Lanjut setelah di titik pertama kita bertemu dengan panitia dan diberi tugas untuk mewawancarai salah satu pedagang dan mengulik sejarah dari pasar ini, dari sini aku banyak menemukan keindahannya dari seorang kakek yang berumur 85 tahun. lanjut ke titik kedua yaitu pasar klewer (namanya unik banget) karena jarak yang lumayan dekat kelompok kita memutuskan untuk jalan kaki ke titik tersebut, sekalian olahraga. Disini kita dikasih tugas untuk menjalankan projek sosial yang sudah kelompok kita susun yaitu “pohon harapan untuk indonesia”, di sini projek nya lebih kearah edukasi apa sih harapan warna buat indonesia, apalagi di tahun ini adalah tahun politik yang mana adalah tahun pergantian presiden indonesia.
Titik terakhir yaitu Keraton Kasunanan, di titik ini kita diperlihatkan tempat keraton solo, dan alhamdulillah karena waktu yang sudah menunjukkan pergantian petugas, kita di kasih tontonan bagaimana bapak-bapak penjaga keraton melakukan pergantian tugas kepada petugas yang lainnya, ahh indah banget. Hikmah yang dapat aku diambil dari perjalan expedisi ini adalah “kadang kita acuh tak acuh pada sekitar, coba renungkan sambil jalan-jalan menggunakan kaki mu sendiri dan tatap setiap jengkal perjalananmu dari titik satu ketitik lain, lihat perbedaannya, keajaiban itu pasti ada”
Kata penutup untuk FLC 2023, keren bangett, dan makasih sudah membuat aku belajar banyak. Mari kita renungkan jargon BA 12 yang kita bikin yaitu "Pemuda bermartabat, Membantu Ummat", sebuah jargon yang memiliki makna mendalam, sebuah tugas penting untuk menjadi pembantu dari “Ummat” atau peradaban ini. semua itu ada di pundak kita bersama seorang “Pemuda Bermartabat”.
Semangatt ya untuk kita semua, BA 12. yeyyy