#True Story

Hukum

Kegiatan Magang Selama Pandemi Covid-19 di DPRD Kota Mojokerto

Mojokerto (12/9) - Magang di masa pandemi mempunyai tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Pada Kesempatan kali ini saya Revina Dela dan dua rekan saya Ade estri Eni dan Ayu Guritno melaksanakan magang di DPRD Kota Mojokerto yang beralamat di Jalan Gajah Mada N0. 145, Mergelo, Balongsari, Kec Magersari, Kota Mojokerto, Jawa Timur 61314.   Selama melaksanakan kegiatan magang, mahasiswa dituntut agar selalu mematuhi protokol kesehatan yaitu mencuci tangan sebelum masuk area kantor, selalu menggunakan masker dan sedia handsanitizer. Perbedaan yang menonjol saat melaksanakan magang saat pandemi seperti ini adalah pembatasan pada tempat magang, para staff menerapkan WFH (Work From Home) 50% secara bergantian.   Awalnya saya kurang percara diri, karena saya adalah orang yang tidak terlalu pandai berbicara di depan umum. Namun, dengan ilmu yang didapat dalam perkuliahan dan arahan dari dosen pembimbing, membuat saya lebih enjoy saat belajar dan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh pihak DPRD Kota Mojokerto.   Selama saya magang disini, banyak pengalaman dan juga ilmu yang saya dapatkan, diantaranya  adalah dapat berinteraksi langsung dengan banyak staff dan pejabat negara, mengetahui bagaimana struktur kepemimpinan, bagaimana menghadapi atasan dll. Beberapa kegiatan magang yang saya lakuakan yaitu mengikuti sidang paripurna, rapat dengar pendapat para dewan, menganalisis suatu anggaran belanja apakah sudah terealisasi dengan baik atau belum, membuat surat tugas dan masih banyak lagi.   Kegiatan magang dimulai pada tanggal 26 Juli 2021 – 2 September 2021 dan dilaksanakan pada hari senin sampai dengan hari jumat pada pukul 07.00 WIB - 16.00 WIB. Hari dan jam kerja tersebut mengikuti jam operasional dinas. Kegiatan magang ini didampingi oleh Bapak Sholahudin Al-Fatih, S.H., M.H selaku Dosen Fakultas Hukum untuk memberikan pengawasan dan arahan selama kegiatan magang berlangsung.   Disana saya dibimbing oleh Ibu Nessie Anies Faizah, S.Sos. MM selaku Kepala Bagian Umum dan Keuangan di Sekretariat Daerah. Menurut Beliau “Keberadaan mahasiswa magang selama 1 bulan lebih ini sangat membantu pekerjaan. Mahasiswa melakukan aktivitas kerja selayaknya karyawan, sehingga mahasiswa benar-benar mengenal dunia kerja”   Pelaksanaan magang yag relatif cepat diharapkan memberikan pengalaman yang cukup kepada mahasiswa, pembelajaran langsung di tempat kerja (experiential learning), peserta magang diharapkan juga akan mendapatkan hardskills (keterampilan, complex problem solving, analytical skills) maupun softskills (etika profesi, komunikasi, kerjasama, dan sebagainya) di tempat magang.

Revina Savira4 menit
Pendidikan

Meningkatkan Produktivitas Masyarakat Sumberejo Dengan Pembuatan ‘Bag Scale’ di Masa Pandemi Covid - 19

Batu (5/8) - Pandemi Covid-19 di dunia saat ini memang menjadi wabah yang merugikan banyak hal, salah satunya yaitu sektor perekonomian. Banyak perusahaan harus tutup bahkan gulung tikar diakibatkan pandemi ini dan hal seperti ini juga tak luput dengan kondisi perekonomian para petani sayur maupun buah yang juga ikut terdampak. Kondisi seperti itu salah satunya terjadi di Desa Sumberejo yang terletak di Kota Batu, Malang - Jawa Timur yang mana sebagian besar penduduk disana bermata pencaharian sebagai seorang petani sayur mayur juga buah-buahan. Tidak hanya itu, desa Sumberejo juga terkenal dengan wisata petik sayurnya. Namun dengan kondisi seperti pandemi ini membuat kawasan petik sayur sepi serta hasil penjualan dari sayur dan buah yang mereka panen kurang maksimal disebabkan adanya pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah setempat membuat kegiatan jual beli sedikit terhambat dan tidak jarang dengan hal seperti itu sayur dan buah yang harus di setor hari itu menjadi tertunda dan menyebabkan kualitas sayur dan buah tersebut tidak sesegar seperti saat awal dipetik.   Melihat dan mendengar penuturan perihal kondisi ini dari bapak kepala desa Sumberejo, kami merasa semakin yakin bahwa progam kerja yang kami bawa akan bisa membantu sedikitnya untuk meningkatkan produktivitas masyarakat setempat. Bag Scale, atau bisa disebut dengan keranjang timbang merupakan suatu alat yang dapat membantu petani disana khususnya untuk menimbang sayur ataupun buah yang telah dipanen. Bentuk dari bag scale ini sendiri seperti tas ransel yang rangkanya terbuat dari timba dengan bagian bawah yang dilubang dan diberikan pengait tengah di lubang atasnya untuk ditempatkannya timbangan gantung digital. Cara kerja dari bag scale ini sendiri yaitu dengan cara meletakkan kantong plastik maupun karung pada kaitan besi yang sudah terpasang untuk nantinya sayur atau buah yang akan ditimbang dimasukkan pada kantong tersebut dan secara otomatis akan nampak langsung berapa berat dari sayur atau buah yang dikumpulkan. Hal ini dinilai lebih praktis dan menghemat waktu. “Kelompok kami membuat ide ini juga bukan tanpa alasan. Selain berguna untuk kebutuhan petani namun alat ini juga bisa dijual belikan karena perubahan zaman yang semakin canggih harapan kami dunia pertanian juga harus mengikuti trend pembaharuan yang ada agar tidak tertinggal” ucap Ade Pradana selaku ketua kelompok 59 PMM UMM.   Dengan adanya ide dan progam kerja dari kami sebagai kelompok Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang berharap alat tersebut dapat membantu para petani sayur dan buah dan utamanya mempermudah penimbangan pada saat wisatawan mengunjungi wisata petik sayur nantinya. Selain itu dengan adanya alat seperti ini besar harapan kami masyarakat desa Sumberejo bisa membuat bag scale sendiri dan dijual kembali karena selain bahan-bahannya mudah didapat dan pengerjaannya yang relatif singkat dengan penjualan bag scale ini juga diharapkan dapat menambah penghasilan masyarakat. “Saya mewakili kelompok tani dan juga masyarakat disini mengucapkan banyak terima kasih telah memilih desa kami sebagai lokasi PMM kalian serta terima kasih atas ide dan support yang telah diberikan kepada kami. Desa kami ya kecil gini mas, saya juga harap dengan ide ini bisa menambah produktivitas mengingat pandemi seperti ini semuanya serba susah” tutur kepala desa Sumberejo, Drs. Riyanto.

Djorgy Hafidz4 menit
Pendidikan

Gerakan Literasi di Era Digital Bersama Komunitas Beranibaca.id

Malang (27/7) - Era digital saat ini merupakan hal yang cukup digadang-gadangkan sebagai era disrupsi, dimana jika kamu tidak melakukan inovasi dan perubahan-perubahan maka kamu sendiri yang akan terdisrupsi oleh keadaan yang dibuat oleh orang lain. Era digital saat ini, membuat orang-orang harus melihat jauh kedepan agar tidak terlindas oleh cepatnya peralihan zaman. Hal-hal yang dianggap mustahil, justru malah terwujud saat ini. Contohnya saja dalam dunia bisnis transportasi, Blue Bird menjadi raja nya dengan aset sekian banyaknya mobil taksi, namun siapa sangka dalam waktu singkat terguling oleh Gojek yang bahkan tidak punya aset kendaraan satupun.   Begitu juga dengan literasi, saat ini tengah dimarakkannya gerakan literasi digital oleh pemerintah. Logika sederhananya yaitu agar era digital ini dapat mempercepat sektor literasi sehingga memiliki dampak positif bagi masyakarat di Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya telah cukup banyak survei yang menyatakan betapa rendahnya minat baca di Indonesia. Misalnya saja survei terbaru terkait tingkat literasi di Indonesia, salah satunya adalah Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) pada 2019, menunjukkan Indonesia berada pada posisi 6 dari bawah alias peringkat 74 dari 79 negara dalam kategori kemampuan membaca. Dari penelitian ini semakin menunjukkan bahwasanya kondisi Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja dalam hal minat dan daya baca. Hal ini seolah-olah paradoks dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019 yang menunjukkan bahwa tingkat melek huruf masyarakat indonesia sudah berada di atas 98 persen, seakan-akan data ini mengatakan bahwa "kita mampu membaca, namun rendah minat untuk membaca."   Sehingga dalam mewujudkan tujuan yang mulia tersebut, tidak cukup hanya pemerintah saja yang bergerak, namun juga dari masyarakat Indonesia itu sendiri. Karena jika kita belajar dari sejarah, bahwasanya gerakan-gerakan besar itu, dimulai oleh segelintir orang yang terus konsisten dalam bergerak. Maka dari itu, salah satu peran dari masyarakat Indonesia yang dapat kita lihat saat ini adalah melalui gerakan komunitas literasi, salah satunya seperti yang dijalankan oleh Komunitas Berani Baca. Komunitas ini didirikan sejak 17 April 2018 oleh 7 orang pemuda yang resah dengan kondisi literasi indonesia yang sangat memprihatinkan. Sehingga melalui inovasi penggabungan antara dunia literasi dan teknologi, komunitas Beranibaca.id ini dapat menjangkau jutaan generasi millenial Indonesia yang sangat akrab dengan teknologi dan meningkatkan kemampuan literasi mereka terutama dalam membaca buku. Dalam mencapai cita-cita tersebut Beranibaca.id telah melakukan beberapa programnya: 1) Challenge Berani Baca, merupakan tantangan membaca kepada 100 orang setiap bulannya untuk membudayakan membaca buku setiap harinya selama 15 hari dan kemudian menuliskan review dari buku yang telah dibaca tersebut. 2) Bedah buku, merupakan wadah bagi peserta challenge beranibaca yang telah menyelesaikan buku bacaan serta membuat ulasan (book review). Dari 100 orang peserta dipilih lah beberapa  ulasan bacaan (book review) terbaik untuk dibedah melalaui siaran langsung instagram @beranibaca. 3) Kolaborasi Komunitas Literasi, merupakan kolaborasi antar komunitas yang diharapkan dapat memperluas relasi serta saling memberikan support terhadap pergerakan di dunia literasi, contohnya seperti mengadakan seminar / webinar bersama yang berkaitan dengan literasi. 4) Reading Marathon, merupakan aktivitas membaca suatu buku tertentu secara langsung di cafe dengan sejumlah orang untuk menyelesaikan bacaannya dan kemudian membedah buku yang telah dibaca bersama tersebut. 5) Donasi Buku, merupakan kegiatan donasi buku ke daerah tertentu yang sangat membutuhkan sumbangan buku untuk perpustakaan masyarakat di daerah tersebut. 6) Challenge Berani Nulis, merupakan pengembangan sayap gerakan Komunitas Beranibaca.id di dunia literasi yaitu pada ranah menulis. Adapun target dari project ini yaitu pemuda Indonesia diharapkan setelah mampu konsisten dalam membaca dapat menghasilkan karya berupa tulisan. Dalam prosesnya setiap tulisan yang dibuat peserta akan diberi masukan oleh mentor yang sudah berpengalaman, sehingga karya yang dihasilkan setelah challenge dapat semakin berkualitas.   Kedepannya untuk memperluas kebermanfaatan, Komunitas Beranibaca.id berencana untuk memperbanyak kolaborasi bersama komunitas lainnya serta akan dilakukan pengembangan kepengurusan yang awalnya bersifat nasional menjadi kepengurusan pusat dan kepengurusan regional di daerah-daerah Indonesia. Semoga dengan adanya Komunitas Beranibaca.id ini dapat memberikan warna pada dunia literasi di Indonesia serta dapat meningkatkan minat dan daya baca pemuda Indonesia. Jika kamu tertarik untuk bergabung bersama dengan gerakan ini, informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui instagram @beranibaca atau websitenya beranibaca.id.   “Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya.” -Joseph Brodsky-(Penyair asal Rusia)

Chaca Nugraha Zaid7 menit
Pendidikan

Mahasiswa FK UMM Beri Edukasi Perbedaan Gejala DBD dan Covid-19 yang Banyak Dibingungkan Masyarakat

Malang (13/7) - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM ) yang tergabung dalam kelompok 97 Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa ( PMM ) tahun 2021 melakukan sebuah kegiatan edukasi yaitu seputar pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue yang marak terjadi akhir akhir ini dikarenakan fenomena pancaroba yang terjadi. Kelompok dengan dosen pendamping Ibu Hamdan Nafiatur Rosyida, S.S, M.Si sebagai Dosen Pendamping kemudian sebagai koordinator Mohamad Ilham serta 4 anggota lainnya yaitu Aswendo, Nadhira, Siti alfiah, dan Nirmaya melakukan edukasi di Kampung MCK Terpadu Tlogomas, Malang. Bukan Tanpa sebab mereka memilih area tersebut untuk dilakukan sasaran edukasi, hal itu dikarenakan mengingat daerah tersebut dirasa rawan akan tempat perkembangan nyamuk khususnya nyamuk Aedes Aegypti sang penyebab biang penyakit DBD, karena adanya beberapa tempat MCK terbuka pada daerah tersebut.   Adapun tujuan dari kegiatan ini selain melakukan edukasi tentang cara pencegahan penyakit DBD juga guna mengurangi kepanikan masyarakat akan gejala DBD yang dirasa sama dengan penyakit COVID-19. Sehingga diharapkan para warga dapat membedakan dengan benar mana gejala DBD dan bukan DBD. Kegiatan edukasi ini dilakukan dengan berkunjung dari rumah ke rumah dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Tidak hanya melakukan pemberian materi, Mahasiswa PMM kelompok 97 ini juga memberikan beberapa poster komunikatif yang mudah dipahami, lotion anti nyamuk selain itu juga dilakukan pengecekan kesehatan kepada warga.   Kegiatan ini sangat disambut antusias oleh warga disana, dapat dilihat dari kesemangatan masyarakat saat bertanya seputar edukasi yang diberikan.    “Sangat senang rasanya akan kedatangan mas dan mbak disini untuk edukasi ini, karena akhir akhir ini banyak sekali warga kampung yang terkena demam, dan membuat tetangga sekitar risau karena gejala yang ditimbulkan sama persis seperti gejala Covid-19 yang kami baca di Internet“ ucap salah satu warga saat diberikan edukasi. 

Mohamad Ilham Septian3 menit
Pendidikan

Membina Calon-calon Pemimpin Melalui Rumah Arsitek Peradaban

Rumah Arsitek Peradaban Indonesia, atau disingkat RAPI adalah lembaga Pengembangan minat dan bakat Mahasiswa yang berada di Kediri. Melalui lembaga ini, kami ingin menghadirkan sebuah program pembinaan yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan adanya Rumah ini, diharapkan seluruh peserta yang tergabung dalam pembinaan mendapatkan kepahaman mengenai bagaimana mengenal islam secara syumul, dan dengan keikhlasannya mampu menyiarkan kebaikan serta mencegah kemungkaran.   RAPI lahir atas dasar kepedulian akan kondisi saat ini, yaitu degradasi moral dan integritas yang dimiliki oleh pemuda. Pemuda terutama Mahasiswa adalah calon pemimpin yang akan menjadi Arsitek menyusun bagaimana jalannya Peradaban Indonesia. Oleh karena itu nasib bangsa ini bergantung pada pemuda yang saat ini sedang menjadi seorang mahasiswa. Coching Organisasi bersama FKI IIK Kediri   Progam pembinaan di RAPI tidak hanya berfokus pada personal namun juga organisasi. Program yang kita miliki yaitu Beasiswa Berbasis Asrama, Pelatihan, dan pengembangan Organisasi ataupun Personal. Pembinaan tersebut bergerak di bidang SDM, Sosial, Keilmuan, dll. Diharapkan dengan adanya pembinaan tersebut penerima manfaat dapat memaksimalkan potensi seusai minat dan bakat masing-masing. Adapun target dari penerima manfaat adalah dari kampus PSDKU UB Kediri, PSDKU Polinema Kediri, IAIN Kediri, IIK Kediri.   Dalam pelaksanaannya RAPI tidak bekerja sendiri, tetapi bekerja sama dengan berbagai elemen dan organisasi. Saat ini RAPI telah melaksanakan pembinaan, pelatihan, dan pengembangan dengan FKI IIK, KKI UB, dan Rohis Strada. Dikarenakan Pandemi yang belum reda akhirnya program beasiswa berbasis Asrama belum bisa dilaksanakan, jikapun dilaksanakan akan tidak maksimal. Oleh karena itu program kita fokuskan untuk melaksanakan coaching terhadap personal maupun organisasi. Webinar dan Galang Dana Palestina   Selain melaksanakan program pembinaan tersebut, kita juga melaksanakan program yang berbasis sosial seperti menanggapi isu Geopolitik Internasional tentang Palestina. Dikarenakan Penerima Manfaat diharapkan bisa menjadi Arsitek Peradaban Indonesia di masa depan, untuk itu kita mengajak mereka untuk berpikir kritis secara global. Program ini bukan hanya sebagai bentuk pencerdasan tapi juga menanamkan kepekaan terhadap sesama. Dalam program ini kita melaksanakan galang dan dan Webinar yang narasumbernya langsung dari palestina. Memberikan Training Organization Pesantren Pelajar Indonesia   Untuk saat ini program belum bisa dilaksanakan secara maksimal, dan mengharuskan kita untuk luring. Kedepannya RAPI akan terus berinovasi agar lebih baik dalam melasanakan program.

rijal helmy4 menit