Surabaya (7/9) - Saya Tamsil Aulia Hakim Universitas Muhammadiyah Malang dari program studi Ilmu Hukum yang pada saat ini sedang melakukan kegiatan magang di salah satu Kejaksaan yang ada di Jawa Timur yaitu Kejaksaan Negeri Surabaya yang berada di Jalan Raya Sukomanunggal Jaya No.1, Sukomanunggal, Kec. Sukomanunggal, Kota Surabaya, Jawa Timur 60188.
Kegiatan magang ini dilakukan oleh semua mahasiswa untuk memenuhi nilai mata kuliah sebagai bentuk pengaplikasian ilmu yang telah di peroleh di bangku kuliah, saya magang dengan kedua teman saya Rafie Iqbal Pratama dan M. Farhan Hawari. Tentunya kegiatan magang ini di dampingi oleh Dosen untuk memberi pengawasan sekaligus memberi saran dan arahan, yang pada kegiatan magang ini saya di dampingi oleh pak Sholahuddin Al-Fatih, SH.,MH selaku dosen fakultas hukum.
Saya ingin sedikit menceritakan tentang hal-hal baru yang saya dapatkan ketika magang. Ketika saya magang saya memilih di bagian DATUN (Perdata dan TUN) dengan didampingi oleh bapak Bayu Akbar Sulaiman selaku Jaksa Pengacara Negara kasubsi Pertimbangan Hukum. Untuk ruang lingku p kerja Datun itu sendiri memiliki 5 wewenang dalam menjalankan tugas negara sesuai dengan Perja Nomor 025 Tahun 2015 yaitu terkait dengan Penegakan Hukum, Bantuan Hukum, Pertimbangan Hukum, Pelayanan Hukum dan Tindakan Hukum Lain. Jaksa Pengacara Negara ruang lingkupnya hanya sekitar BUMN/BUMD hanya instansi Pemerintah saja, kecuali dalam hal Pelayanan Hukum Jaksa Pengacara Negara boleh memberikan pendapatnya dengan terbatas. Dalam memberikan Pendapatnya berupa Bantuan Hukum Litigasi ataupun Non-Litigasi, Pendampingan Hukum ataupun Pendapat hukum Pemerintah Kota Surabaya adalah Intansi yang sangat sering untuk meminta pendapat kepada para JPN ketika hendak melakukan kegiatannya, karena Pemerintah Kota Surabaya sangat percaya dengan para JPN.
Malang (16/8) - Tim Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Mitra Dosen Arjosari, Fakultas Hukum,Universitas Muhammadiyah Malang, melaksanakan kegiatan penyuluhan dan pendampingan hukum dalam hal pengidentifikasian dokumen perolehan hak atas tanah akibat jual beli.
Kegiatan ini dihadiri oleh pejabat PPAT, yaitu Isdian Anggraeny S.H., M.Kn dan Isdiyana Kusuma Ayu,serta dihadiri oleh peserta dari kalangan tua maupun muda. Kegiatan ini dilaksanakan secara online via zoom secara teratur. Para peserta sangat berpartisipasi bergabung guna mengetahui hukum terkait pertanahan terutama dalam hal jual beli.
Dalam kegiatan ini tedapat susunan acara yaitu, pembukaan, penyampaian materi dari pejabat PPAT,Sesi tanya jawab, penyampaian materi oleh anggota PMM serta adanya pembagian doorprize. Dimana, terdapat 3 orang peserta yang bertanya akan dipilih untuk mendapatkan dooprize dan 2 peserta yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh panitia juga akan mendapatkan doorprize. Hal tersebut menjadikan para peserta semakin antusias untuk mengikuti hingga selesainya acara.
Batu (5/8) - Pandemi Covid-19 di dunia saat ini memang menjadi wabah yang merugikan banyak hal, salah satunya yaitu sektor perekonomian. Banyak perusahaan harus tutup bahkan gulung tikar diakibatkan pandemi ini dan hal seperti ini juga tak luput dengan kondisi perekonomian para petani sayur maupun buah yang juga ikut terdampak. Kondisi seperti itu salah satunya terjadi di Desa Sumberejo yang terletak di Kota Batu, Malang - Jawa Timur yang mana sebagian besar penduduk disana bermata pencaharian sebagai seorang petani sayur mayur juga buah-buahan. Tidak hanya itu, desa Sumberejo juga terkenal dengan wisata petik sayurnya. Namun dengan kondisi seperti pandemi ini membuat kawasan petik sayur sepi serta hasil penjualan dari sayur dan buah yang mereka panen kurang maksimal disebabkan adanya pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah setempat membuat kegiatan jual beli sedikit terhambat dan tidak jarang dengan hal seperti itu sayur dan buah yang harus di setor hari itu menjadi tertunda dan menyebabkan kualitas sayur dan buah tersebut tidak sesegar seperti saat awal dipetik.
Melihat dan mendengar penuturan perihal kondisi ini dari bapak kepala desa Sumberejo, kami merasa semakin yakin bahwa progam kerja yang kami bawa akan bisa membantu sedikitnya untuk meningkatkan produktivitas masyarakat setempat. Bag Scale, atau bisa disebut dengan keranjang timbang merupakan suatu alat yang dapat membantu petani disana khususnya untuk menimbang sayur ataupun buah yang telah dipanen. Bentuk dari bag scale ini sendiri seperti tas ransel yang rangkanya terbuat dari timba dengan bagian bawah yang dilubang dan diberikan pengait tengah di lubang atasnya untuk ditempatkannya timbangan gantung digital. Cara kerja dari bag scale ini sendiri yaitu dengan cara meletakkan kantong plastik maupun karung pada kaitan besi yang sudah terpasang untuk nantinya sayur atau buah yang akan ditimbang dimasukkan pada kantong tersebut dan secara otomatis akan nampak langsung berapa berat dari sayur atau buah yang dikumpulkan. Hal ini dinilai lebih praktis dan menghemat waktu. “Kelompok kami membuat ide ini juga bukan tanpa alasan. Selain berguna untuk kebutuhan petani namun alat ini juga bisa dijual belikan karena perubahan zaman yang semakin canggih harapan kami dunia pertanian juga harus mengikuti trend pembaharuan yang ada agar tidak tertinggal” ucap Ade Pradana selaku ketua kelompok 59 PMM UMM.
Dengan adanya ide dan progam kerja dari kami sebagai kelompok Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang berharap alat tersebut dapat membantu para petani sayur dan buah dan utamanya mempermudah penimbangan pada saat wisatawan mengunjungi wisata petik sayur nantinya. Selain itu dengan adanya alat seperti ini besar harapan kami masyarakat desa Sumberejo bisa membuat bag scale sendiri dan dijual kembali karena selain bahan-bahannya mudah didapat dan pengerjaannya yang relatif singkat dengan penjualan bag scale ini juga diharapkan dapat menambah penghasilan masyarakat. “Saya mewakili kelompok tani dan juga masyarakat disini mengucapkan banyak terima kasih telah memilih desa kami sebagai lokasi PMM kalian serta terima kasih atas ide dan support yang telah diberikan kepada kami. Desa kami ya kecil gini mas, saya juga harap dengan ide ini bisa menambah produktivitas mengingat pandemi seperti ini semuanya serba susah” tutur kepala desa Sumberejo, Drs. Riyanto.
Malang (30/7) - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Integrasi (KKNT-I) Universitas Negeri Malang 2021, melakukan kegiatan kemasyarakatan di desa Gadingkulon, kecamatan Dau. Sampah adalah sejenis bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber yang dihasilkan oleh kegiatan manusia atau proses alam, tidak memiliki nilai ekonomis, bahkan dapat memiliki kelebihan dan kekurangan tergantung dari cara pengolahannya.
Sampah menjadi permasalahan utama di masyarakat, terutama masyarakat yang tidak mempunyai lahan. Sampah yang dibuang sembarangan, yaitu dijurang, di lahan pemakaman, maupun di lahan pertanian milik warga yang lain. Sampah plastik dan kertas banyak dibakar sehingga menyebabkan tercemarnya udara. Selain itu, permasalahan lain yaitu belum terselenggaranya TPST di desa Gadingkulon. Hal ini yang menyebabkan warga membuang sampah sembarangan.
Oleh karena itu, mahasiswa KKNT-I UM melakuan edukasi mengenai pemilahan sampah terutama sampah rumah tangga. Diberikan video mengenai pemilahan sampah yaitu sampah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) serta pembuatan kompos. Video ini digantikan untuk pertemuan secara langsung karena dalam kondisi PPKM. Video kemudian dibagikan kepada ketua Dasawisma di Rt. 15, yang kemudian dikirim digrup WhatsApp (WA) Dasawisma. Dilakukan juga pemantauan agar kegiatan pemilihan sampah dapat berjalan di masing-masing rumah warga.
Malang (27/7) - Era digital saat ini merupakan hal yang cukup digadang-gadangkan sebagai era disrupsi, dimana jika kamu tidak melakukan inovasi dan perubahan-perubahan maka kamu sendiri yang akan terdisrupsi oleh keadaan yang dibuat oleh orang lain. Era digital saat ini, membuat orang-orang harus melihat jauh kedepan agar tidak terlindas oleh cepatnya peralihan zaman. Hal-hal yang dianggap mustahil, justru malah terwujud saat ini. Contohnya saja dalam dunia bisnis transportasi, Blue Bird menjadi raja nya dengan aset sekian banyaknya mobil taksi, namun siapa sangka dalam waktu singkat terguling oleh Gojek yang bahkan tidak punya aset kendaraan satupun.
Begitu juga dengan literasi, saat ini tengah dimarakkannya gerakan literasi digital oleh pemerintah. Logika sederhananya yaitu agar era digital ini dapat mempercepat sektor literasi sehingga memiliki dampak positif bagi masyakarat di Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya telah cukup banyak survei yang menyatakan betapa rendahnya minat baca di Indonesia. Misalnya saja survei terbaru terkait tingkat literasi di Indonesia, salah satunya adalah Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) pada 2019, menunjukkan Indonesia berada pada posisi 6 dari bawah alias peringkat 74 dari 79 negara dalam kategori kemampuan membaca. Dari penelitian ini semakin menunjukkan bahwasanya kondisi Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja dalam hal minat dan daya baca. Hal ini seolah-olah paradoks dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019 yang menunjukkan bahwa tingkat melek huruf masyarakat indonesia sudah berada di atas 98 persen, seakan-akan data ini mengatakan bahwa "kita mampu membaca, namun rendah minat untuk membaca."
Sehingga dalam mewujudkan tujuan yang mulia tersebut, tidak cukup hanya pemerintah saja yang bergerak, namun juga dari masyarakat Indonesia itu sendiri. Karena jika kita belajar dari sejarah, bahwasanya gerakan-gerakan besar itu, dimulai oleh segelintir orang yang terus konsisten dalam bergerak. Maka dari itu, salah satu peran dari masyarakat Indonesia yang dapat kita lihat saat ini adalah melalui gerakan komunitas literasi, salah satunya seperti yang dijalankan oleh Komunitas Berani Baca. Komunitas ini didirikan sejak 17 April 2018 oleh 7 orang pemuda yang resah dengan kondisi literasi indonesia yang sangat memprihatinkan. Sehingga melalui inovasi penggabungan antara dunia literasi dan teknologi, komunitas Beranibaca.id ini dapat menjangkau jutaan generasi millenial Indonesia yang sangat akrab dengan teknologi dan meningkatkan kemampuan literasi mereka terutama dalam membaca buku.
Dalam mencapai cita-cita tersebut Beranibaca.id telah melakukan beberapa programnya:
1) Challenge Berani Baca, merupakan tantangan membaca kepada 100 orang setiap bulannya untuk membudayakan membaca buku setiap harinya selama 15 hari dan kemudian menuliskan review dari buku yang telah dibaca tersebut.
2) Bedah buku, merupakan wadah bagi peserta challenge beranibaca yang telah menyelesaikan buku bacaan serta membuat ulasan (book review). Dari 100 orang peserta dipilih lah beberapa ulasan bacaan (book review) terbaik untuk dibedah melalaui siaran langsung instagram @beranibaca.
3) Kolaborasi Komunitas Literasi, merupakan kolaborasi antar komunitas yang diharapkan dapat memperluas relasi serta saling memberikan support terhadap pergerakan di dunia literasi, contohnya seperti mengadakan seminar / webinar bersama yang berkaitan dengan literasi.
4) Reading Marathon, merupakan aktivitas membaca suatu buku tertentu secara langsung di cafe dengan sejumlah orang untuk menyelesaikan bacaannya dan kemudian membedah buku yang telah dibaca bersama tersebut.
5) Donasi Buku, merupakan kegiatan donasi buku ke daerah tertentu yang sangat membutuhkan sumbangan buku untuk perpustakaan masyarakat di daerah tersebut.
6) Challenge Berani Nulis, merupakan pengembangan sayap gerakan Komunitas Beranibaca.id di dunia literasi yaitu pada ranah menulis. Adapun target dari project ini yaitu pemuda Indonesia diharapkan setelah mampu konsisten dalam membaca dapat menghasilkan karya berupa tulisan. Dalam prosesnya setiap tulisan yang dibuat peserta akan diberi masukan oleh mentor yang sudah berpengalaman, sehingga karya yang dihasilkan setelah challenge dapat semakin berkualitas.
Kedepannya untuk memperluas kebermanfaatan, Komunitas Beranibaca.id berencana untuk memperbanyak kolaborasi bersama komunitas lainnya serta akan dilakukan pengembangan kepengurusan yang awalnya bersifat nasional menjadi kepengurusan pusat dan kepengurusan regional di daerah-daerah Indonesia. Semoga dengan adanya Komunitas Beranibaca.id ini dapat memberikan warna pada dunia literasi di Indonesia serta dapat meningkatkan minat dan daya baca pemuda Indonesia. Jika kamu tertarik untuk bergabung bersama dengan gerakan ini, informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui instagram @beranibaca atau websitenya beranibaca.id.
“Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya.” -Joseph Brodsky-(Penyair asal Rusia)