
Tim pengabdian kepada masyarakat (pengmas) Fakultas Farmasi UNAIR menggelar kegiatan bertajuk “Pelatihan pengelolaan obat-obatan DAGUSIBU di Pondok Pesantren Raudlatul Musthofa di Dusun Pundensari”. Kegiatan ini terlaksana pada hari Sabtu (14/09/2024) di Gedung Balai Latihan Kerja Pondok Pesantren Raudlatul Musthofa di Dusun Pundensari, Desa Rejotangan, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Kegiatan ini diikuti oleh 120 peserta pelatihan, yang terdiri dari ustad-ustadzah pendamping santri-santriwati dan petugas unit kesehatan sekolah dari Pondok Pesantren Raudlatul Musthofa di Dusun Pundensari. Kegiatan pengmas pelatiah pengelolaan obat ini juga merupakan tindak nyata upaya mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berhubungan dengan kesehatan yaitu tujuan ketiga kesehatan dan kesejahteraan untuk semua.
"Pondok pesantren merupakan tempat bagi para santri untuk menuntut ilmu dan dalam proses pendidikannya mengharuskan santri untuk tinggal di asrama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa santri rawan mengalami gangguan kesehatan yang erat kaitannya dengan perilaku hidup bersih dan sehat yang buruk" tutur Gusti Noorrizka, ketua tim pengmas.
Dosen Farmasi yang akrab disapa Rizka tersebut melanjutkan penjelasannya bahwa gangguan kesehatan yang dialami santri tentu memerlukan obat yang tepat. Penggunaan obat yang tidak benar dapat berpengaruh pada gagalnya pencapaian tujuan terapi yang diinginkan serta munculnya masalah terkait obat, misalnya dosis terlalu rendah atau terlalu tinggi, ketidakpatuhan minum obat, interaksi obat, duplikasi obat, efek samping, dan masalah lainnya.
Bapak Saefudin, S.Pd selaku perwakilan dari Pondok Pesantren Raudlatul Mustofa Dusun Pundensari Tulungagung menyambut tim Pengmas FFUNAIR sekaligus menyampaikan rasa terima kasih atas acara pelatihan ini dan berharap agar kerjasama pengmas ini terus terjalin di kemudian hari. Rizka selaku ketua Tim Pengmas FFUNAIR menyampaikan bahwa setelah pelatihan ini Tim Pengmas akan memantau pelaksanaan pengelolaan obat DAGUSIBu selama beberapa bulan ke depan. Lebih lanjut Rizka menambahkan pemantauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi mitra dalam melaksanakan praktek pengelolaan obat DAGUSIBU dan mencarikan Solusi atas permasalahan tersebut.
Kegiatan Pelatihan ini selain melibatkan tim pengas FFUNAIR juga melibatkan tenaga kesehatan setempat yaitu Ibu Sri Endah Pratiwi Sarjana Terapan Kebidanan. Beliau menyampaikan pentingnya melakukan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) untuk mencegah gangguan kesehatan yang sering dialami santri-santriwati. Beliau juga menyampaikan bahaimana cara mencegah penularan penyakit. Acara dilanjutkan dengan pelatihan pengelolaan obat DAGUSIBU yang disampaikan oleh Dr I Nyoman Wijaya, S.Si., SpFrs.
Pada penjelasannya Dr I Nyoman Wijaya, S.Si., SpFrs. menyampaikan pentingnya mendapatkan obat dari sumber yang terpercaya seperti di apotek, beliau juga menambahkan bahayanya bila salah memggunakan obat yang berdampak penyakit tidak kunjung sembuh bahkan bisa menimbulkan efek negatif yang tidak diharapkan. Lebih lanjut lagi beliau menyampaikan kondisi penyimpanan yang baik akan mencegah obat cepat rusak, selain itu cara membuang obat yang sudah kadaluarsa juga harus tepat agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan juga mencegah pencemaran lingkungan.
Tidak berhenti sampai di situ saja, untuk memperkuat pemahaman peserta kegiatan pengmas ini dilanjutkan dengan tutorial cara penggunaan obat yang benar. Peserta pelatihan dibagi menjadi 10 kelompok dan tiap-tiap kelompok didampingi oleh satu tutor. Tidak hanya dosen yang bertindak sebagai tutor, tutorial ini juga melibatkan mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Farmasi, Program Studi Magister Ilmu Farmasi dan Program Studi Profesi Apoteker FAkultas Farmasi UNAIR. Para tutor melatih peserta untuk mempraktekkan cara penggunaan obat yang benar, tiap tutor dibekali dengan alat peraga obat yang terdiri dari salep untuk scabies, obat cair untuk kutu rambut, tablet turun panas, sirup batuk berdahak dan sirup batuk kering, sendok makan dan sendok teh rumah tangga, sendok takar serta sloki penakar obat. Para peserta pelatihan diminta menakar air dengan menggunakan sendok makan serta sendok teh lalu dibandingkan bila menggunakan sendok takar dan sloki penakar obat. Dengan melihat perbedaan hasil ini peserta pelatihan menjadi paham bahwa sendok makan dan sendok teh bukanlah alat penakar obat yang tepat. Ketidaktepatan penakaran obat ini mengakibatkan dosis obat yang digunakan tidak sesuai, akibatnya tidak tercapai efek terapi yang diharapkan.
Peserta pelatihan Pelatihan pengelolaan obat-obatan DAGUSIBU di Pondok Pesantren Raudlatul Musthofa di Dusun Pundensari mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias. Keberhasilan pelatihan ini ditunjukkan dengan peningkatan skor pre-test dan post-test kuisioner pengetahuan pengelolaan obat. Sebelum mengikuti pelatihan rata-rata skor yang diperoleh peserta berkisar 44 dari total skor 100, sementara itu setelah mengikuti pelatihan pengetahuan peserta pelatihan meningkat hampir dua kali lipat dari skor sebelumnya yaitu sebesar 80 dari total skor 100.
Kegiatan pengmas ini ditutup dengan penyerahan obat-obatan dan alat takar sediaan cair kepada pengurus Pondok Pesantren Raudlatul Musthofa di Dusun Pundensari. Diharapkan penyerahan obatt-obatan ini dapat bermanfaat mengobati gangguan kesehatan yang sering dialami oleh santri dan santriwati.
