Surabaya (7/9) - Saya Tamsil Aulia Hakim Universitas Muhammadiyah Malang dari program studi Ilmu Hukum yang pada saat ini sedang melakukan kegiatan magang di salah satu Kejaksaan yang ada di Jawa Timur yaitu Kejaksaan Negeri Surabaya yang berada di Jalan Raya Sukomanunggal Jaya No.1, Sukomanunggal, Kec. Sukomanunggal, Kota Surabaya, Jawa Timur 60188.
Kegiatan magang ini dilakukan oleh semua mahasiswa untuk memenuhi nilai mata kuliah sebagai bentuk pengaplikasian ilmu yang telah di peroleh di bangku kuliah, saya magang dengan kedua teman saya Rafie Iqbal Pratama dan M. Farhan Hawari. Tentunya kegiatan magang ini di dampingi oleh Dosen untuk memberi pengawasan sekaligus memberi saran dan arahan, yang pada kegiatan magang ini saya di dampingi oleh pak Sholahuddin Al-Fatih, SH.,MH selaku dosen fakultas hukum.
Saya ingin sedikit menceritakan tentang hal-hal baru yang saya dapatkan ketika magang. Ketika saya magang saya memilih di bagian DATUN (Perdata dan TUN) dengan didampingi oleh bapak Bayu Akbar Sulaiman selaku Jaksa Pengacara Negara kasubsi Pertimbangan Hukum. Untuk ruang lingku p kerja Datun itu sendiri memiliki 5 wewenang dalam menjalankan tugas negara sesuai dengan Perja Nomor 025 Tahun 2015 yaitu terkait dengan Penegakan Hukum, Bantuan Hukum, Pertimbangan Hukum, Pelayanan Hukum dan Tindakan Hukum Lain. Jaksa Pengacara Negara ruang lingkupnya hanya sekitar BUMN/BUMD hanya instansi Pemerintah saja, kecuali dalam hal Pelayanan Hukum Jaksa Pengacara Negara boleh memberikan pendapatnya dengan terbatas. Dalam memberikan Pendapatnya berupa Bantuan Hukum Litigasi ataupun Non-Litigasi, Pendampingan Hukum ataupun Pendapat hukum Pemerintah Kota Surabaya adalah Intansi yang sangat sering untuk meminta pendapat kepada para JPN ketika hendak melakukan kegiatannya, karena Pemerintah Kota Surabaya sangat percaya dengan para JPN.
Batu (5/8) - Pandemi Covid-19 di dunia saat ini memang menjadi wabah yang merugikan banyak hal, salah satunya yaitu sektor perekonomian. Banyak perusahaan harus tutup bahkan gulung tikar diakibatkan pandemi ini dan hal seperti ini juga tak luput dengan kondisi perekonomian para petani sayur maupun buah yang juga ikut terdampak. Kondisi seperti itu salah satunya terjadi di Desa Sumberejo yang terletak di Kota Batu, Malang - Jawa Timur yang mana sebagian besar penduduk disana bermata pencaharian sebagai seorang petani sayur mayur juga buah-buahan. Tidak hanya itu, desa Sumberejo juga terkenal dengan wisata petik sayurnya. Namun dengan kondisi seperti pandemi ini membuat kawasan petik sayur sepi serta hasil penjualan dari sayur dan buah yang mereka panen kurang maksimal disebabkan adanya pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah setempat membuat kegiatan jual beli sedikit terhambat dan tidak jarang dengan hal seperti itu sayur dan buah yang harus di setor hari itu menjadi tertunda dan menyebabkan kualitas sayur dan buah tersebut tidak sesegar seperti saat awal dipetik.
Melihat dan mendengar penuturan perihal kondisi ini dari bapak kepala desa Sumberejo, kami merasa semakin yakin bahwa progam kerja yang kami bawa akan bisa membantu sedikitnya untuk meningkatkan produktivitas masyarakat setempat. Bag Scale, atau bisa disebut dengan keranjang timbang merupakan suatu alat yang dapat membantu petani disana khususnya untuk menimbang sayur ataupun buah yang telah dipanen. Bentuk dari bag scale ini sendiri seperti tas ransel yang rangkanya terbuat dari timba dengan bagian bawah yang dilubang dan diberikan pengait tengah di lubang atasnya untuk ditempatkannya timbangan gantung digital. Cara kerja dari bag scale ini sendiri yaitu dengan cara meletakkan kantong plastik maupun karung pada kaitan besi yang sudah terpasang untuk nantinya sayur atau buah yang akan ditimbang dimasukkan pada kantong tersebut dan secara otomatis akan nampak langsung berapa berat dari sayur atau buah yang dikumpulkan. Hal ini dinilai lebih praktis dan menghemat waktu. “Kelompok kami membuat ide ini juga bukan tanpa alasan. Selain berguna untuk kebutuhan petani namun alat ini juga bisa dijual belikan karena perubahan zaman yang semakin canggih harapan kami dunia pertanian juga harus mengikuti trend pembaharuan yang ada agar tidak tertinggal” ucap Ade Pradana selaku ketua kelompok 59 PMM UMM.
Dengan adanya ide dan progam kerja dari kami sebagai kelompok Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang berharap alat tersebut dapat membantu para petani sayur dan buah dan utamanya mempermudah penimbangan pada saat wisatawan mengunjungi wisata petik sayur nantinya. Selain itu dengan adanya alat seperti ini besar harapan kami masyarakat desa Sumberejo bisa membuat bag scale sendiri dan dijual kembali karena selain bahan-bahannya mudah didapat dan pengerjaannya yang relatif singkat dengan penjualan bag scale ini juga diharapkan dapat menambah penghasilan masyarakat. “Saya mewakili kelompok tani dan juga masyarakat disini mengucapkan banyak terima kasih telah memilih desa kami sebagai lokasi PMM kalian serta terima kasih atas ide dan support yang telah diberikan kepada kami. Desa kami ya kecil gini mas, saya juga harap dengan ide ini bisa menambah produktivitas mengingat pandemi seperti ini semuanya serba susah” tutur kepala desa Sumberejo, Drs. Riyanto.
Malang (27/7) - Era digital saat ini merupakan hal yang cukup digadang-gadangkan sebagai era disrupsi, dimana jika kamu tidak melakukan inovasi dan perubahan-perubahan maka kamu sendiri yang akan terdisrupsi oleh keadaan yang dibuat oleh orang lain. Era digital saat ini, membuat orang-orang harus melihat jauh kedepan agar tidak terlindas oleh cepatnya peralihan zaman. Hal-hal yang dianggap mustahil, justru malah terwujud saat ini. Contohnya saja dalam dunia bisnis transportasi, Blue Bird menjadi raja nya dengan aset sekian banyaknya mobil taksi, namun siapa sangka dalam waktu singkat terguling oleh Gojek yang bahkan tidak punya aset kendaraan satupun.
Begitu juga dengan literasi, saat ini tengah dimarakkannya gerakan literasi digital oleh pemerintah. Logika sederhananya yaitu agar era digital ini dapat mempercepat sektor literasi sehingga memiliki dampak positif bagi masyakarat di Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya telah cukup banyak survei yang menyatakan betapa rendahnya minat baca di Indonesia. Misalnya saja survei terbaru terkait tingkat literasi di Indonesia, salah satunya adalah Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) pada 2019, menunjukkan Indonesia berada pada posisi 6 dari bawah alias peringkat 74 dari 79 negara dalam kategori kemampuan membaca. Dari penelitian ini semakin menunjukkan bahwasanya kondisi Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja dalam hal minat dan daya baca. Hal ini seolah-olah paradoks dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019 yang menunjukkan bahwa tingkat melek huruf masyarakat indonesia sudah berada di atas 98 persen, seakan-akan data ini mengatakan bahwa "kita mampu membaca, namun rendah minat untuk membaca."
Sehingga dalam mewujudkan tujuan yang mulia tersebut, tidak cukup hanya pemerintah saja yang bergerak, namun juga dari masyarakat Indonesia itu sendiri. Karena jika kita belajar dari sejarah, bahwasanya gerakan-gerakan besar itu, dimulai oleh segelintir orang yang terus konsisten dalam bergerak. Maka dari itu, salah satu peran dari masyarakat Indonesia yang dapat kita lihat saat ini adalah melalui gerakan komunitas literasi, salah satunya seperti yang dijalankan oleh Komunitas Berani Baca. Komunitas ini didirikan sejak 17 April 2018 oleh 7 orang pemuda yang resah dengan kondisi literasi indonesia yang sangat memprihatinkan. Sehingga melalui inovasi penggabungan antara dunia literasi dan teknologi, komunitas Beranibaca.id ini dapat menjangkau jutaan generasi millenial Indonesia yang sangat akrab dengan teknologi dan meningkatkan kemampuan literasi mereka terutama dalam membaca buku.
Dalam mencapai cita-cita tersebut Beranibaca.id telah melakukan beberapa programnya:
1) Challenge Berani Baca, merupakan tantangan membaca kepada 100 orang setiap bulannya untuk membudayakan membaca buku setiap harinya selama 15 hari dan kemudian menuliskan review dari buku yang telah dibaca tersebut.
2) Bedah buku, merupakan wadah bagi peserta challenge beranibaca yang telah menyelesaikan buku bacaan serta membuat ulasan (book review). Dari 100 orang peserta dipilih lah beberapa ulasan bacaan (book review) terbaik untuk dibedah melalaui siaran langsung instagram @beranibaca.
3) Kolaborasi Komunitas Literasi, merupakan kolaborasi antar komunitas yang diharapkan dapat memperluas relasi serta saling memberikan support terhadap pergerakan di dunia literasi, contohnya seperti mengadakan seminar / webinar bersama yang berkaitan dengan literasi.
4) Reading Marathon, merupakan aktivitas membaca suatu buku tertentu secara langsung di cafe dengan sejumlah orang untuk menyelesaikan bacaannya dan kemudian membedah buku yang telah dibaca bersama tersebut.
5) Donasi Buku, merupakan kegiatan donasi buku ke daerah tertentu yang sangat membutuhkan sumbangan buku untuk perpustakaan masyarakat di daerah tersebut.
6) Challenge Berani Nulis, merupakan pengembangan sayap gerakan Komunitas Beranibaca.id di dunia literasi yaitu pada ranah menulis. Adapun target dari project ini yaitu pemuda Indonesia diharapkan setelah mampu konsisten dalam membaca dapat menghasilkan karya berupa tulisan. Dalam prosesnya setiap tulisan yang dibuat peserta akan diberi masukan oleh mentor yang sudah berpengalaman, sehingga karya yang dihasilkan setelah challenge dapat semakin berkualitas.
Kedepannya untuk memperluas kebermanfaatan, Komunitas Beranibaca.id berencana untuk memperbanyak kolaborasi bersama komunitas lainnya serta akan dilakukan pengembangan kepengurusan yang awalnya bersifat nasional menjadi kepengurusan pusat dan kepengurusan regional di daerah-daerah Indonesia. Semoga dengan adanya Komunitas Beranibaca.id ini dapat memberikan warna pada dunia literasi di Indonesia serta dapat meningkatkan minat dan daya baca pemuda Indonesia. Jika kamu tertarik untuk bergabung bersama dengan gerakan ini, informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui instagram @beranibaca atau websitenya beranibaca.id.
“Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya.” -Joseph Brodsky-(Penyair asal Rusia)
Rumah Arsitek Peradaban Indonesia, atau disingkat RAPI adalah lembaga Pengembangan minat dan bakat Mahasiswa yang berada di Kediri. Melalui lembaga ini, kami ingin menghadirkan sebuah program pembinaan yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan adanya Rumah ini, diharapkan seluruh peserta yang tergabung dalam pembinaan mendapatkan kepahaman mengenai bagaimana mengenal islam secara syumul, dan dengan keikhlasannya mampu menyiarkan kebaikan serta mencegah kemungkaran.
RAPI lahir atas dasar kepedulian akan kondisi saat ini, yaitu degradasi moral dan integritas yang dimiliki oleh pemuda. Pemuda terutama Mahasiswa adalah calon pemimpin yang akan menjadi Arsitek menyusun bagaimana jalannya Peradaban Indonesia. Oleh karena itu nasib bangsa ini bergantung pada pemuda yang saat ini sedang menjadi seorang mahasiswa.
Coching Organisasi bersama FKI IIK Kediri
Progam pembinaan di RAPI tidak hanya berfokus pada personal namun juga organisasi. Program yang kita miliki yaitu Beasiswa Berbasis Asrama, Pelatihan, dan pengembangan Organisasi ataupun Personal. Pembinaan tersebut bergerak di bidang SDM, Sosial, Keilmuan, dll. Diharapkan dengan adanya pembinaan tersebut penerima manfaat dapat memaksimalkan potensi seusai minat dan bakat masing-masing. Adapun target dari penerima manfaat adalah dari kampus PSDKU UB Kediri, PSDKU Polinema Kediri, IAIN Kediri, IIK Kediri.
Dalam pelaksanaannya RAPI tidak bekerja sendiri, tetapi bekerja sama dengan berbagai elemen dan organisasi. Saat ini RAPI telah melaksanakan pembinaan, pelatihan, dan pengembangan dengan FKI IIK, KKI UB, dan Rohis Strada. Dikarenakan Pandemi yang belum reda akhirnya program beasiswa berbasis Asrama belum bisa dilaksanakan, jikapun dilaksanakan akan tidak maksimal. Oleh karena itu program kita fokuskan untuk melaksanakan coaching terhadap personal maupun organisasi.
Webinar dan Galang Dana Palestina
Selain melaksanakan program pembinaan tersebut, kita juga melaksanakan program yang berbasis sosial seperti menanggapi isu Geopolitik Internasional tentang Palestina. Dikarenakan Penerima Manfaat diharapkan bisa menjadi Arsitek Peradaban Indonesia di masa depan, untuk itu kita mengajak mereka untuk berpikir kritis secara global. Program ini bukan hanya sebagai bentuk pencerdasan tapi juga menanamkan kepekaan terhadap sesama. Dalam program ini kita melaksanakan galang dan dan Webinar yang narasumbernya langsung dari palestina.
Memberikan Training Organization Pesantren Pelajar Indonesia
Untuk saat ini program belum bisa dilaksanakan secara maksimal, dan mengharuskan kita untuk luring. Kedepannya RAPI akan terus berinovasi agar lebih baik dalam melasanakan program.
Awal Ramadhan 2021 yang biasanya masyarakat muslim bisa melaksanakan ibadah dengan khusyuk, tapi dihari itu tanggal Pada 10 April 2021 yang lalu Kab. Malang dan sekitarnya dilanda gempa bumi dengan kekuatan 6,1 SR, Kedalaman 25 KM terjadi di titik Lintang 8.95 LS, Bujur 112.48 BT yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan dibeberapa titik. Hasil laporan tim Respon menyatakan dampak bencana gempa diantaranya 8 orang meninggal dunia (3 orang di Malang dan 5 orang di Lumajang), dan 39 orang mengalami luka-luka. Terdapat berbagai jenis kerusakan bangunan diantaranya 1361 rumah rusak ringan, 845 rumah rusak sedang dan 179 rumah rusak berat.
Posko Bencana Dhompet Dhuafa Berupa Dapur Ramadhan yang ada di dua dusun.
Salah satu kawasan terdampak paling parah adalah Desa Wirotaman, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Merespon kondisi gempa tersebut, Dompet Dhuafa (DD) melalui kolaborasi tim Disaster Management Center (DMC), Dompet Dhuafa Volunteer (DDV), Bakti Nusa, dan Youlead berjumlah 22 orang personel terjun bersama membantu kawasan terdampak. Pada tanggal 12 Dompet Dhuafa telah menerjunkan Tim untuk melakukan Assesment, dan selanjutnya pendirian posko di Desa Wirotaman. Dalam Pelaksanaannya ada dua Posko di dua dusun, yang keduanya sebagai Dapur Ramadhan yang menyediakan berbuka bagi Warga Sekitar. Program ini berfokus pada pengadaan kotak makan 150-200 kotak setiap hari dengan takjil berserta minuman segarnya.
Tim Bakti Nusa bersama DDV dan DMC melangsungkan program giat bersih dalam menanggapi kerusakan rumah dan fasilitas umum yang terjadi. Program giat bersih berfokus pada bantuan tenaga dalam menyisihkan puing-puing bangunan yang roboh, seperti masjid, rumah warga, dan membantu pendirian tenda terpal darurat. Dalam pelaksanaannya kita tidak hanya bekerja sendiri dengan internal Elemen Dhompet Dhuafa, tapi kita juga berkolaborasi dengan berbagai lembaga Pemerintah, Relawan, dll.
Pembagian makanan untuk berbuka puasa Mayarakat terdampak.
Selain tanggap pada kerusakan materil, hasil assessment tim DD menunjukkan diperlukan adanya program yang membantu pemulihan psikologi warga setempat khususnya anak-anak.
Program Psychological First Aid (PFA)
Oleh karenaya Psychological First Aid (PFA) menjadi salah satu program yang berfokus pada pemulihan yang menyasar anak-anak hingga remaja setempat. Berbagai aktivitas PFA diantaranya pola senyum sehat, senyum ceria dan senyum semangat. Program PFA diawali dengan senyum semangat yang dilakukan bersama di lapangan voli desa Wirotaman berupa permainan lokal bersama 57 anak-anak. Selain itu dikarenakan Kondisi Covid kita juga memberikan pencerdasan terkain protokol Kesehatan, tidak lupa juga kita melakukan kampanye menjaga kesehatan gigi dan mulut melalui penyuluhan terhadap anak-anak.
Terlaksanakanya program PFA membawa dampak yang cukup signifikan bagi tingkat kebahagiaan anak-anak. Dengan adanya program ini, anak-anak memiliki aktivitas produktif di siang hari dan berinteraksi bersama teman-temannya. Mengingat kondisi geografis desa wirotaman yang naik turun, membuat jarak antar rumah yang cukup jauh bagi anak-anak untuk bisa bermain tanpa pengawasan orang tua.
Perjalanan Marching for Boundaries (MFB) Bakti Nusa (Rijal Helmy Saiful Islam, Chaca Nugraha Zaid, Ulfatu Mahmuda, dan Hanif Hidayatun Nikmah) pada kawasan terdampak gempa membawa sudut pandang baru dalam melihat bencana yang terjadi di bumi pertiwi. Bahwa sebagai pemuda, kita diberikan kelimpahan waktu dan tenaga yang seharusnya diberdayakan untuk membantu masyarakat, terutama dalam kondisi terdampak bencana.
Penyaluran Bantuan Kepada Terdampak Gempa.
Melihat Senyum mereka yang membutuhkan membuat kita teringat makna akan syukur dan ikhlas. Berkolaborasi dengan berbagai elemen juga mengajarkan kita akan makna gotong royong yang sudah mengakar dari bangsa ini.