
Kedatangan kelompok Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa (PMM) Kelompok 84 Gelombang 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dilakukan di Desa Sedaeng, Kec.Tosari, Kab.Pasuruan, Jawa Timur yang telah resmi dibuka pada hari Jum’at 2 September 2022 dan disambut hangat oleh warga desa sekitar serta dihadiri oleh Abdul Hadi atau biasa dikenal dengan Pak Dedik selaku Kepala Desa Sedaeng.
Selain itu mahasiswa juga mengikuti kegiatan adat warga yakni bari’an Biasanya upacara ini diadakan secara rutin setiap bulan pada hari Jumat Legi. Bari’an diadakan untuk berdoa agar seluruh masyarakat tengger desa Podokoyo terhindar dari mara bahaya. Masyarakat percaya bahwa upacara ini berguna untuk menyeimbangkan tiga unsur alam semesta yaitu air, api dan udara., Para ibu mengenakan setelan kebaya berwarna cokelat muda dengan jarik berwarna cokelat tua di bawahnya. Yang lain mengenakan setelan kebaya putih yang dipasangkan dengan jalik minion berwarna cokelat tua. Para Bapak yang lewat semuanya berpakaian hitam. Uden Shibori yang melilit kepala berwarna cokelat. Satu atau dua terlihat berbeda dan berpakaian cokelat. Mereka adalah aparat desa. Meski berpakaian berbeda, mereka mengenakan uden seperti pria lainnya.
Dalam perjalanan orang membawa segala macam makanan ke Punden. Punden adalah bangunan terbuka dengan pagar setinggi dada orang dewasa. Perpaduan warna kuning dan jingga menghiasi motif bunga pada pagar tersebut. Halaman dikelilingi oleh pagar yang sepenuhnya dinaungi oleh atap asbes. Dengan cara ini, setiap orang yang mengikuti upacara adat tidak perlu khawatir akan panas atau hujan. Tiang-tiang penyangga atap ditutupi dengan kain putih dan kuning. Mimbar di sudut depan bunden juga dibungkus dengan kain yang sama. Aneka buah-buahan, umbi-umbian dan makanan lainnya berjejer tidak jauh dari mimbar.
Pelungguhan berasal dari kata "lungguh" dengan awalan "pa" dan akhiran "an". Dengan penambahan awalan dan akhiran tersebut, kata yang semula berarti “duduk” akhirnya berubah menjadi “duduk”. Dalam konteks masyarakat Jawa, Perunguhan sering dikacaukan dengan kata Paseban. Ini berarti aula yang digunakan untuk menghadapi tokoh yang lebih tinggi seperti raja dan orang yang dimuliakan. Upacara Balian dihadiri oleh seluruh warga Desa Podkoyo yang beragama Hindu, Kristen dan Islam. Semuanya tumpah ke halaman Punden. Bagi Tengger, Balian bukanlah upacara keagamaan, melainkan upacara adat. Oleh karena itu, tidak ada bedanya bagi pemeluk agama apapun. Selama Anda adalah keturunan suku Tengah, Anda wajib mengikuti upacara ini.
Kegiatan PMM Bhaktimu Negeri merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang di ikuti oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang dikembangkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Bentuk dari PMM ini dapat berupa pembuatan, pendampingan, penyuluhan, aplikasi, desain, serta pelatihan teknologi. Khususnya dalam hal ini masyarakat desa Sedaeng. Bentuk dari kegiatan PMM yang dilakukan oleh Mahasiswa UMM ini yaitu pendampingan dan penyuluhan hukum guna memberikan gambaran dan solusi terkait permasalahan hukum yang terjadi. Kegiatan PMM ini beranggotakan Karisma Gopinda Sari , Debrianti KR Putri Suprapto, M.Iqbal Prasetya, Rayanda Husny Mubarak, Adyuta Apta Camara Paris dari jurusan Hukum UMM yang akan mengangkat judul “Sosialisasi DAMPAK NEGATIF PERNIKAHAN DINI DAN RESTORATIVE JUSTICE” Di lingkungan desa Sedaeng. Judul ini diambil karena menurut keterangan Kepala Desa setempat permasalah tersebutlah yang masih sering terjadi di lingkungan desa Sedaeng. Kegiatan PMM ini berada dibawah bimbingan Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing Lapang (DPL).
Pembukaan kegiatan PMM ini di awali dengan pengenalan dengan warga serta Karang Taruna. Dalam hal ini Kelompok PMM 84 Gelombang 9 berharap dengan sambutan yang baik dari warga desa sekitar menjadi awal yang baik untuk kegiatan PMM yang akan dilaksanakan kedepannya.