• Beranda
  • Berita
    Semua Berita
  • Kontak
  • Daftar
  • Masuk

Cari disini

×
Beranda / Berita / Tim PKM-K Universitas Negeri Malang Tangkap Peluang Pasar White Sneakers Melalui Inovasi WHISH

Tim PKM-K Universitas Negeri Malang Tangkap Peluang Pasar White Sneakers Melalui Inovasi WHISH

WHISH di Ekonomi
  • Kamis, 3 September 2026 09:34:47
  • 5menit

Di tengah tren penggunaan white sneakers yang terus meningkat di Indonesia, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) Universitas Negeri Malang (UM) melihat peluang yang belum banyak digarap, yakni produk perawatan harian yang praktis untuk menjaga sepatu tetap bersih dan terhindar dari kekuningan. Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim menghadirkan WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes), inovasi tisu ramah lingkungan yang dikembangkan sebagai solusi daily after care bagi pengguna sepatu putih.

Ketua Tim PKM-K, Sekar Wahyu Ningtyas, mengatakan bahwa pengembangan WHISH diawali bukan dari pembuatan produk, melainkan dari proses memahami perilaku dan kebutuhan konsumen.

"Kami melihat semakin banyak masyarakat, khususnya mahasiswa, menggunakan sepatu putih dalam aktivitas sehari-hari. Namun, sebagian besar baru membersihkan sepatu ketika sudah sangat kotor atau mulai menguning. Dari situ kami melihat adanya kebutuhan terhadap produk yang dapat digunakan secara rutin setelah sepatu dipakai," ujarnya.

Sebelum menentukan formulasi produk, tim melakukan validasi pasar melalui survei terhadap 127 pengguna white sneakers. Hasilnya menunjukkan bahwa 84,3 persen responden menggunakan sepatu putih tiga hingga lima kali setiap minggu, 81,1 persen pernah mengalami masalah noda dan kekuningan, sedangkan 95,3 persen menyatakan tertarik menggunakan WHISH apabila tersedia di pasaran. Selain itu, 90,5 persen responden memilih tisu basah sebagai bentuk perawatan sepatu yang paling praktis. Hasil tersebut memperkuat keyakinan tim bahwa produk yang dikembangkan memiliki peluang pasar yang besar.

Berbekal hasil riset tersebut, tim kemudian mengembangkan WHISH sebagai tisu daily after care yang membantu membersihkan noda ringan sekaligus mencegah terbentuknya kekuningan melalui perawatan rutin. Berbeda dengan produk shoe care yang umumnya berfokus pada deep cleaning, WHISH dirancang untuk digunakan segera setelah sepatu dipakai sehingga kotoran tidak sempat menumpuk dan memicu proses oksidasi yang menyebabkan warna sepatu berubah menjadi kekuningan.

WHISH dikembangkan oleh Sekar Wahyu Ningtyas (S1 Pendidikan Bisnis) bersama Ervina Mei Ananda Putri (S1 Pendidikan Bisnis), Adrian Arif Pambudi (S1 Biologi), Salwa Avisa Yumna Salsabila Suprapto (S1 Pendidikan Kimia), dan Kharisma Putri Ambarwati (S1 Pendidikan Bisnis). Kolaborasi lintas disiplin tersebut menghasilkan produk yang mengombinasikan inovasi bahan alami, teknologi, dan pendekatan kewirausahaan.

Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan serat ampas tebu sebagai bahan dasar tisu yang bersifat biodegradable, ekstrak kulit lemon dari limbah industri minuman yang diformulasikan menggunakan teknologi nanoenkapsulasi, serta biosurfaktan alami dari lidah buaya untuk membantu mengangkat noda pada permukaan sepatu. Kombinasi tersebut menjadikan WHISH aman digunakan pada berbagai material white sneakers, seperti PU leather, PVC leather, microfiber leather, serta bagian midsole berbahan EVA, PU, dan TPU.

Saat ini WHISH dipasarkan dalam kemasan box berisi 8 sachet, dengan setiap sachet berisi 2 lembar tisu, dan dijual seharga Rp30.000. Untuk menjangkau konsumen, tim memadukan pemasaran secara luring melalui Car Free Day (CFD), bazar, dan pameran kewirausahaan dengan pemasaran digital melalui Instagram, TikTok, Shopee, Tokopedia, serta WhatsApp Business. Strategi tersebut telah menghasilkan penjualan 69 box, memperluas kerja sama dengan tiga toko sepatu dan tiga jasa shoe laundry, serta membangun jangkauan media sosial hingga 1.176 pengikut.

Menurut Sekar, pengalaman mengembangkan WHISH membuktikan bahwa inovasi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga harus berangkat dari kebutuhan masyarakat.

"Melalui PKM-K, kami belajar bahwa sebuah inovasi harus memiliki manfaat nyata bagi konsumen. Karena itu, setiap keputusan dalam pengembangan WHISH, mulai dari formulasi hingga strategi pemasaran, selalu didasarkan pada hasil riset dan kebutuhan pengguna," katanya.

Dengan dukungan Universitas Negeri Malang, Tim PKM-K berharap WHISH dapat terus berkembang menjadi produk perawatan sepatu karya mahasiswa yang mampu bersaing di pasar nasional. Inovasi ini juga diharapkan dapat mendorong pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

 

Tag :

PrestasiMinat & BakatIde Kreatif

Bagikan :

WHISH

    Mungkin Anda Tertarik

    1.

    Pelatihan Taekwondo oleh Kelompok 91 PMM UMM 2021 Disambut sangat Antusias
    Aulina Zahra Putri di Ekonomi
    • Sabtu, 27 Maret 2021
    • 2 menit

    2.

    Meningkatkan Semangat Berwirausaha di Masa Pandemi, Mahasiswa PMM UMM Lakukan Pelatihan Pembuatan Selai Srikaya Pandan
    FIRA MAULIDA AHSANIAH di Ekonomi
    • Sabtu, 27 Maret 2021
    • 3 menit

    3.

    PMM Mitra Dosen UMM & UMKM di Bumiayu Bersinergi Kembangkan Bisnis di Era Pandemi
    Sholahuddin Al-Fatih di Ekonomi
    • Sabtu, 19 Juni 2021
    • 3 menit

    4.

    Mahasiswa Fakultas Hukum UMM Perkenalkan Produk Minuman Cangloh di Kelurahan Dinoyo Malang
    Taufiqur Rahman Shaleh di Ekonomi
    • Sabtu, 3 Juli 2021
    • 3 menit

    Download Sekarang

    iOSAndroidmacOSWindowsLinux
    © 2026 Malanghub . Made with , Designed byW3layouts

    Syarat dan KetentuanKebijakan Privasi