• Beranda
  • Berita
    Semua Berita
  • Kontak
  • Daftar
  • Masuk

Cari disini

×
Beranda / Berita / Benarkah Standar Tiktok Mempengaruhi Gaya Hidup Generasi Z?

Benarkah Standar Tiktok Mempengaruhi Gaya Hidup Generasi Z?

Dafi El Haq Jauhary di Opini
  • Rabu, 11 Desember 2024 11:27:15
  • 12menit

TikTok telah menjadi fenomena global yang mengubah cara hidup manusia, khususnya Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Dengan algoritmanya yang unik, TikTok mampu menyajikan konten yang sangat relevan dengan minat pengguna, menjadikannya pusat budaya pop yang memengaruhi gaya hidup, aspirasi, hingga cara berpikir kaum muda. Namun, muncul pertanyaan: apakah standar yang ditampilkan TikTok benar-benar memiliki dampak besar terhadap gaya hidup Generasi Z? Berdasarkan penelitian dan pendapat ahli, TikTok tidak hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga membentuk pola konsumsi dan perilaku sosial generasi tersebut. Artikel ini membahas dampak standar TikTok pada gaya hidup Generasi Z, dengan dukungan penelitian dan data terpercaya.

Pendahuluan

Salah satu keunikan TikTok adalah algoritma For You Page (FYP) yang memungkinkan konten viral tersebar dengan cepat. Algoritma ini berperan besar dalam menetapkan standar yang diikuti oleh Generasi Z, seperti pencapaian estetika tertentu, gaya hidup mewah, atau tren perilaku yang dikemas dalam video pendek.

Fitur lain, seperti duet dan remix, memungkinkan pengguna meniru atau merespons konten kreator populer, menciptakan siklus yang memperkuat standar tersebut. Kreator dengan jutaan pengikut sering kali memengaruhi tren dan menciptakan norma baru. Bagi Generasi Z, hal ini memengaruhi cara mereka mendefinisikan diri dan membangun identitas sosial.

Contoh nyata: Tantangan kecantikan seperti beauty challenge telah mengubah cara pandang remaja terhadap kecantikan. Banyak remaja merasa perlu mengikuti tren ini agar diterima secara sosial, yang sering kali memicu tekanan pada kesehatan mental mereka.

Dampak Positif TikTok pada Kehidupan

TikTok juga menjadi media berekspresi yang baik. Platform ini mendorong kreativitas, memungkinkan pengguna menunjukkan keunikan melalui berbagai format video, seperti tutorial, seni, musik, dan komedi. Kampanye sosial seperti #MentalHealthAwareness dan #ClimateAction juga membantu Generasi Z lebih peduli terhadap isu penting. Studi oleh Minza & Febriani (2023) menemukan bahwa 74% pengguna TikTok merasa lebih nyaman berbicara tentang isu penting seperti kesehatan mental dan perubahan iklim. TikTok menciptakan komunitas virtual di mana remaja merasa didukung dan diterima.

Kreator seperti @betterhelp membagikan video tentang tips kesehatan mental kepada pengikutnya. Video semacam ini tidak hanya membantu individu secara personal, tetapi juga meningkatkan kesadaran kolektif di kalangan Generasi Z.

Dampak Negatif TikTok

Di sisi lain, TikTok juga memiliki dampak negatif, terutama tekanan sosial untuk memenuhi standar tertentu. Hal ini sering kali menyebabkan perasaan tidak cukup baik, kecemasan sosial, atau bahkan depresi. Remaja yang menggunakan TikTok secara berlebihan cenderung membandingkan diri dengan kreator populer, sehingga merasa tidak puas dengan diri sendiri. Penelitian oleh Saputri (2023) menunjukkan bahwa 62% remaja merasa lebih rendah diri setelah menggunakan TikTok, terutama setelah melihat gaya hidup atau pencapaian kreator. Dampak ini lebih terasa pada perempuan karena standar kecantikan sering menjadi sorotan.

Tekanan sosial ini dapat menghambat pengembangan diri dan menurunkan rasa percaya diri. Dalam kasus ekstrem, tekanan ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental serius, seperti gangguan makan atau kecenderungan menyakiti diri sendiri.

TikTok dan Konsumerisme

TikTok juga menjadi alat pemasaran yang sangat efektif melalui influencer marketing. Generasi Z mudah terpengaruh oleh ulasan atau rekomendasi produk dari kreator yang mereka kagumi, memicu perilaku konsumtif. Studi Wijoyo et al. (2021) menemukan bahwa lebih dari separuh responden membeli produk setelah melihatnya di TikTok. Strategi pemasaran berbasis tren ini memanfaatkan rasa takut ketinggalan (FOMO) yang sering dialami oleh Generasi Z.

Contoh nyata: Tren seperti TikTok made me buy it menunjukkan betapa kuatnya pengaruh platform ini dalam mendorong perilaku konsumtif. Produk seperti alat kecantikan, pakaian, atau gadget yang viral sering terjual habis dalam waktu singkat setelah diiklankan kreator.

Privasi dan Tantangan Etis

Masalah besar lainnya adalah penggunaan data pengguna oleh TikTok. Sebagai platform berbasis algoritma, TikTok mengumpulkan data pengguna untuk personalisasi konten dan iklan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang privasi, terutama karena Generasi Z sering tidak menyadari risikonya. Menurut Indrayani (2024), hanya 37% Generasi Z yang peduli terhadap privasi data mereka. Mayoritas pengguna menyetujui syarat dan ketentuan tanpa membaca, membuka risiko penyalahgunaan data.

Ketidaksadaran ini dapat menyebabkan risiko seperti pencurian identitas atau manipulasi perilaku. Selain itu, algoritma yang terlalu personal menciptakan filter bubble, di mana pengguna hanya melihat konten sesuai minat mereka, membatasi eksplorasi perspektif baru.

Kesimpulan

TikTok telah membawa perubahan signifikan pada gaya hidup Generasi Z, menciptakan standar baru yang memengaruhi cara mereka berpikir, bertindak, dan berinteraksi. Sementara platform ini menawarkan manfaat dalam kreativitas dan solidaritas sosial, dampak negatif seperti tekanan sosial, konsumtivisme, dan masalah privasi tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, penting bagi Generasi Z menggunakan TikTok dengan bijak. Orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan perlu memberikan edukasi tentang literasi digital dan privasi. TikTok juga perlu mengurangi dampak negatif, misalnya melalui fitur pengaturan waktu layar atau promosi konten positif secara lebih aktif.

Daftar Pustaka:

1.  Rahmasari, D., & Salsabila, F. J. (2024). Pengaruh Paparan Media Sosial TikTok terhadap Perilaku Self-Harm pada Remaja. Character Jurnal Penelitian. Retrieved from https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/download/62225/47941

2.   Minza, W. M., & Febriani, A. (2023). Dari Milenial Tentang Milenial: Perspektif Psikologi. Jakarta: Media Indonesia.

3.   Saputri, S. B. (2023). Media Sosial, Pedang Bermata Dua bagi Mental Gen Z. TarFomedia.

4.  Wijoyo, H., Ariyanto, A., & Wongso, F. (2021). Strategi Pemasaran UMKM di Masa Pandemi. Insan Cendekia.

5.   Indrayani, Y. I. (2024). Pengaruh Brand Ambassador dan Iklan pada Media Sosial terhadap Minat Menggunakan Aplikasi Ajaib. UII Repository.

Tag :

Citizen ReporterTrue Story

Bagikan :

Dafi El Haq Jauhary

Undergraduate International Relations Student at Airlangga University

    Mungkin Anda Tertarik

    1.

    Mahasiswa PMM UMM Kelompok 74 Gelombang 3 Luncurkan QR Code Guna Meningkatkan Kunjungan Wisata Eduaksi Dadaprejo
    nurul izza al aslamiyah di Opini
    • Kamis, 26 Mei 2022
    • 3 menit

    2.

    Mengamati Sosok Pemimpin Masa Depan
    FazarMuhammad di Opini
    • Senin, 7 November 2022
    • 14 menit

    3.

    Why Nation Fail: Kegagalan Mendeskripsikan Negara Gagal
    Faiz Mochammad di Opini
    • Senin, 6 Desember 2021
    • 4 menit

    4.

    Suap, PR Indonesia Agar Tidak Jadi Negara Gagal
    alvian ananta putra di Opini
    • Selasa, 7 Desember 2021
    • 4 menit
    © 2026 Malanghub . Made with , Designed byW3layouts